Rajin Memasak Jadi Pesan Utama Bedah Buku Pengelolaan Sampah

Media Digital
Media Digital Kamis, 16 Juli 2026 05:32 WIB
Rajin Memasak Jadi Pesan Utama Bedah Buku Pengelolaan Sampah

Bedah buku Minim Sampah, Bahagia di Dapur, Berkarya di Kebun berlangsung di Gedung Serba Guna Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Rabu (15/7)./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

SLEMAN - Bedah buku Minim Sampah, Bahagia di Dapur, Berkarya di Kebun di Gedung Serba Guna Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Rabu (15/7), menyoroti pentingnya membiasakan memasak sendiri di rumah. Hal ini sebagai langkah sederhana mengurangi timbulan sampah rumah tangga sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota DPRD DIY Yuni Satia Rahayu dan Praktisi Hukum Lingkungan Latifah Oktafiani.

Anggota DPRD DIY Yuni Satia Rahayu mengatakan kebiasaan memasak dari dapur rumah tangga bukan hanya berdampak pada kesehatan keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari solusi pengelolaan sampah dari hulu.

"Pesan buku ini adalah kita rajin masak. Sampah bisa dikurangi," kata Yuni, Rabu.

Menurut Yuni, memasak sendiri memungkinkan keluarga mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai sekaligus memanfaatkan sisa bahan makanan menjadi kompos untuk tanaman pangan di sekitar rumah.

Gagasan tersebut sejalan dengan isi buku Minim Sampah, Bahagia di Dapur, Berkarya di Kebun, khususnya tulisan berjudul Beli Jadi atau Masak Sendiri karya Lilih Muflihah.

Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin bergantung pada makanan siap saji dan layanan pesan antar menyebabkan meningkatnya sampah kemasan. Selain itu, kebiasaan tersebut dinilai membuat masyarakat kehilangan kesempatan mengontrol bahan makanan serta proses pengolahannya.

Praktisi Hukum Lingkungan Latifah Oktafiani mengatakan penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) dan bank sampah berbasis masyarakat menjadi langkah penting untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah di DIY.

Menurut Latifah, pengelolaan sampah harus dimulai dari keluarga melalui kebiasaan memilah sampah sejak di rumah. Upaya tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengaktifkan kembali bank sampah di tingkat padukuhan yang selama ini tidak berjalan optimal.

"Kalau keluarga sudah mulai tergerak melakukan pemilahan sampah sejak awal, kader lingkungan bisa mengembangkan upaya reaktivasi bank sampah di tingkat dusun," kata Latifah.

Ia menilai bank sampah tidak hanya berfungsi mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Sampah anorganik seperti plastik, logam, dan kertas dapat dijual melalui bank sampah, sedangkan sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan untuk budi daya maggot sebagai pakan ternak berprotein tinggi.

"Bahkan dalam jangka panjang, sampah organik justru memiliki nilai yang sangat besar apabila dikelola dengan baik," ujarnya.

Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY Budiyono menilai perpustakaan memiliki peran strategis sebagai ruang publik yang mempertemukan masyarakat dengan beragam sumber pengetahuan dan pengalaman belajar.

Menurutnya, fungsi perpustakaan tidak lagi sebatas menyediakan koleksi buku. Perpustakaan juga menjadi ruang untuk membangun budaya berbagi pengetahuan, meningkatkan keterampilan masyarakat, serta menjaga warisan intelektual melalui pelestarian naskah kuno dan arsip sejarah.

"Perpustakaan hadir untuk memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses informasi dan meningkatkan kapasitas dirinya," katanya. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online