Buku Homepower Tekankan Pentingnya Ruang Nyaman bagi Anak
Rumah semestinya menjadi tempat paling aman dan nyaman untuk pulang, bukan ruang yang membuat anak merasa tertekan.
Kegiatan bedah buku Homepower: Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup yang digelar di Balai Kampung Gendeng, Kelurahan Baciro, Kemantren Gondokusuman, Kamis (9/7)./ Harian Jogja/Ariq Fajar Hidayat
JOGJA - Rumah semestinya menjadi tempat paling aman dan nyaman untuk pulang, bukan ruang yang membuat anak merasa tertekan. Gagasan itu menjadi salah satu pesan utama dalam bedah buku berjudul Homepower: Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Balai Kampung Gendeng, Kelurahan Baciro, Kemantren Gondokusuman, Kamis (9/7).
Buku karya Taat Setyabudi dan Giva Putri tersebut mengajak masyarakat memaknai rumah bukan sekadar bangunan fisik. Melalui diskusi, peserta diajak melihat rumah sebagai ruang bertumbuh, tempat berlindung, sekaligus lingkungan yang membangun karakter setiap anggota keluarga.
Penulis buku, Taat Setyabudi, mengatakan makna home dalam bukunya tidak merujuk pada bentuk rumah secara fisik. Menurutnya, rumah adalah tempat yang memberikan rasa nyaman dan selalu menjadi tujuan untuk kembali, apa pun kondisi maupun bentuknya.
Ia menjelaskan, buku tersebut memuat lima dimensi arsitektur rumah yang tidak berkaitan dengan konstruksi bangunan. Salah satunya adalah fondasi keluarga sebagai ruang perlindungan utama, kemudian nilai (value) yang harus tumbuh dari dalam keluarga, bukan sekadar meniru pencapaian keluarga lain.
"Sering kali kita melihat keberhasilan keluarga lain lalu ingin menirunya, padahal kita tidak mengetahui proses, kebiasaan, maupun pengorbanan yang mereka lakukan. Karena itu, setiap keluarga perlu menemukan nilai yang sesuai dengan dirinya sendiri," ujar Taat.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan rumah sebagai safe haven atau tempat yang aman bagi anak. Menurutnya, orang tua perlu memastikan anak merasa diterima, bukan hanya ditanya soal nilai, pekerjaan rumah, atau prestasi ketika pulang ke rumah.
Taat menilai anak yang selalu dituntut sempurna di rumah justru berpotensi mencari ruang penerimaan di luar keluarga. Karena itu, orang tua perlu membangun komunikasi yang lebih dalam dengan memvalidasi perasaan anak, termasuk saat mereka merasa sedih, takut, atau kecewa.
Harian Jogja/Ariq Fajar Hidayat
Kegiatan bedah buku Homepower: Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup yang digelar di Balai Kampung Gendeng, Kelurahan Baciro, Kemantren Gondokusuman, Kamis (9/7).
Selain mengulas isi buku, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan budaya membaca masyarakat. Anggota DPRD DIY, Muhammad Syafi'i, mengajak masyarakat terus menumbuhkan kebiasaan membaca karena pendidikan menjadi salah satu jalan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan keluarga.
Menurutnya, tantangan DIY saat ini masih berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ia berharap masyarakat tetap memberikan motivasi kepada anak untuk melanjutkan pendidikan dan tidak menjadikan persoalan biaya sebagai alasan berhenti sekolah.
"Anak-anak harus terus didorong untuk terus sekolah. Kalau ada persoalan biaya, mari diupayakan bersama, jangan sampai menjadi penyebab mereka tidak melanjutkan pendidikan," kata Syafi'i.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY, Budiyono, mengatakan kegiatan bedah buku digelar sebagai bagian dari upaya meningkatkan minat baca masyarakat. Menurutnya, budaya membaca di Indonesia masih tergolong rendah, meski kondisi DIY relatif lebih baik dibanding rata-rata nasional.
Budiyono menjelaskan, program bedah buku telah dilaksanakan DPAD DIY selama lima tahun terakhir. Pada 2025, kegiatan berlangsung di 275 titik, sedangkan pada 2026 digelar di sekitar 200 titik yang tersebar di berbagai wilayah DIY. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rumah semestinya menjadi tempat paling aman dan nyaman untuk pulang, bukan ruang yang membuat anak merasa tertekan.
KPK menangkap Bupati Sukoharjo bersama empat orang dalam OTT di Solo Raya. Status hukum akan ditentukan dalam 1x24 jam.
Peluncuran B50 disambut positif pengguna jalan. Warga berharap BBM lebih murah, ramah lingkungan, dan stok stabil.
KPK menangkap Bupati Sukoharjo dalam OTT terkait dugaan pemerasan terhadap perangkat daerah. Status segera ditentukan.
Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas sejauh 2 km pada 10 Juli 2026. Warga diminta menjauhi zona bahaya dan alur sungai.
Update harga pangan nasional 10 Juli 2026: cabai rawit Rp60.700/kg, telur Rp29.000/kg, beras dan minyak goreng relatif stabil.