BEDAH BUKU: Cegah Stunting Tak Harus Mahal
Pencegahan stunting tidak selalu membutuhkan biaya mahal. Pemenuhan gizi anak dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh
Anggota DPRD DIY, Purwanto, saat menjadi pembicara dalam bedah buku berjudul Penanggulangan Stunting di Balai Kalurahan Jetis, Ngipak, Karangmojo, Gunungkidul, Jumat (5/6)./ David Kurniawan
GUNUNGKIDUL - Pencegahan stunting tidak selalu membutuhkan biaya mahal. Pemenuhan gizi anak dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh dan terjangkau masyarakat.
Hal itu disampaikan anggota DPRD DIY, Purwanto, saat menjadi pembicara dalam bedah buku berjudul Penanggulangan Stunting di Balai Padukuhan Jetis, Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul, Jumat (5/6).
“Salah satu langkah penting pencegahan stunting adalah pemberian ASI eksklusif untuk mendukung tumbuh kembang bayi sejak lahir,” kata Purwanto.
Ia menjelaskan pemenuhan gizi untuk mencegah stunting tidak harus menggunakan bahan pangan mahal. Menurutnya, banyak sumber protein dan nutrisi di sekitar masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan anak.
“Tidak harus mengonsumsi salmon yang harganya mahal. Di sekitar kita banyak bahan pangan bergizi tinggi untuk mencegah stunting,” ujarnya.
Purwanto menyebut sejumlah bahan pangan lokal yang mudah diperoleh, seperti ayam, telur, lele, ikan pindang, hingga ikan teri. Menurut dia, bahan-bahan tersebut memiliki kandungan gizi yang baik dan harganya relatif terjangkau.
“Karena itu, masyarakat perlu memanfaatkan potensi pangan di lingkungan sekitar. Ada benarnya ungkapan makan apa yang ditanam dan menanam apa yang dimakan,” katanya.
Politisi Partai Gerindra itu menambahkan, bedah buku mengenai stunting digelar karena Kapanewon Karangmojo masih menjadi salah satu lokus stunting di Kabupaten Gunungkidul. Berdasarkan data yang disampaikan, angka stunting di wilayah tersebut mencapai sekitar 21 persen sehingga membutuhkan perhatian bersama.
“Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan pemahaman sekaligus mendorong masyarakat ikut berperan dalam pencegahan stunting,” ujarnya.
Menurut Purwanto, kegiatan bedah buku tidak hanya bertujuan memberikan edukasi kesehatan, tetapi juga meningkatkan budaya literasi masyarakat.
“Dengan membaca, pengetahuan masyarakat akan bertambah. Ini bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.
Narasumber bedah buku, Siti Nur Azizah, mengatakan stunting bukan penyakit, tetapi kondisi gagal tumbuh yang dapat memengaruhi kesehatan dan kecerdasan anak dalam jangka panjang.
“Stunting harus dicegah karena dapat berdampak pada pertumbuhan fisik maupun perkembangan kecerdasan anak,” katanya.
Ia menjelaskan pencegahan stunting harus dilakukan sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau pada periode yang dikenal sebagai 1.000 hari pertama kehidupan. Menurut Siti, kondisi kesehatan ibu hamil serta kecukupan gizi anak menjadi faktor penting dalam mencegah stunting.
“Masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun merupakan masa emas pertumbuhan. Jika kebutuhan gizi tidak terpenuhi, risiko stunting akan meningkat,” ujarnya.
Siti menegaskan, pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga membutuhkan keterlibatan aktif keluarga, terutama orang tua.
“Sering kali alasan ekonomi digunakan untuk mengabaikan pemenuhan gizi anak. Padahal, di sisi lain masih ada pengeluaran yang sebenarnya bisa dialihkan untuk kebutuhan gizi keluarga,” katanya.
Sementara itu, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Fajar Nugraha, mengatakan kegiatan bedah buku digelar melalui kerja sama dengan DPRD DIY sebagai bagian dari upaya meningkatkan budaya literasi masyarakat.
“Bedah buku menjadi salah satu program unggulan untuk meningkatkan minat baca masyarakat,” katanya.
Selain itu, DPAD DIY juga menjalankan program bank buku melalui pengumpulan donasi buku untuk disalurkan ke perpustakaan maupun kalurahan yang membutuhkan.
“Kami berkomitmen meningkatkan budaya literasi masyarakat. Jika membutuhkan tambahan koleksi buku, kami juga memiliki program bantuan buku,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pencegahan stunting tidak selalu membutuhkan biaya mahal. Pemenuhan gizi anak dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh
Jadwal Bus KSPN Jogja 6 Juni 2026 lengkap. Tarif mulai Rp12.000, rute Malioboro ke pantai selatan Jogja.
Jadwal SIM keliling Gunungkidul Juni 2026 lengkap. Layanan SIMMADE, SIMPITU, dan SIM Station memudahkan perpanjangan SIM warga.
Jadwal KA Bandara YIA 6 Juni 2026 lengkap. Akses cepat ke Bandara YIA dari Jogja, solusi transportasi bebas macet.
Pencegahan stunting tidak selalu membutuhkan biaya mahal. Pemenuhan gizi anak dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY menggelar bedah buku berjudul Mudah dan Sukses Usaha Beternak Ayam Kampung Super di Balai Padukuhan Kanigoro.