POLA PENGASUHAN: Hindari Kata Jangan demi Potensi Anak

Media Digital
Media Digital Jum'at, 17 Juli 2026 05:12 WIB
POLA PENGASUHAN: Hindari Kata Jangan demi Potensi Anak

Narasumber memaparkan materinya dalam bedah buku Anakku Terhebat!!!: Tips-tips Membentuk Anak Menjadi yang Terbaik di Kopi Gamol, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman Kamis (16/7)/ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

SLEMAN- Pola pengasuhan anak yang sehat kini menjadi fokus utama dalam rangkaian program literasi yang digalakkan di Pemda DIY. Melalui kegiatan bedah buku Anakku Terhebat!!!: Tips-tips Membentuk Anak Menjadi yang Terbaik karya Dian Nafi yang diterbitkan oleh Familia Pustaka Keluarga, orang tua di Bumi Mataram didesak untuk mulai meninggalkan kalimat-kalimat negatif demi mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak sejak usia dini.

Tantangan dalam pengasuhan modern ini dikupas tuntas oleh Redaktur Buku, Desy Wijaya. Desy menegaskan bahwa kebiasaan menggunakan kata larangan seperti "jangan" serta pola asuh yang terlalu mendikte atau didominasi perintah verbal masih menjadi hambatan besar bagi mayoritas orang tua.

Dalam bedah buku yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY dan DPRD DIY itu, Desy menilai kata-kata buruk atau negatif yang kerap diucapkan tanpa sadar dalam interaksi sehari-hari dapat membekas dan memperlambat pembentukan karakter positif anak.

Sebagai solusi praktis, Desy menyarankan orang tua untuk mengubah instruksi kaku menjadi kalimat ajakan yang persuasif, interaktif, dan penuh afirmasi. Dia mencontohkan, ketika anak merebut mainan temannya, orang tua sebaiknya tidak menghardik dengan kata larangan, melainkan mengarahkan anak secara lembut untuk memahami aturan sosial, seperti meminta izin terlebih dahulu. Langkah reflektif tersebut ia nilai mampu menumbuhkan rasa percaya diri anak sekaligus memperkuat ikatan emosional di dalam rumah.

"Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, tetapi orang tua yang terus belajar," kata Desy dalam bedah buku yang digelar di Kopi Gamol, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Kamis (16/7).

Pandangan tersebut diperkuat oleh praktisi sekaligus orang tua, Dara Ayu Suharto. Dia menilai bahwa dorongan positif serta lingkungan yang suportif dari keluarga merupakan kunci utama agar anak berani keluar dari zona nyaman untuk meraih prestasi.

Dara membagikan pengalaman pribadinya saat mendukung sang putri mengikuti seleksi beasiswa SMA Taruna Nusantara yang sangat ketat dengan puluhan ribu pesaing. Meskipun awalnya peluang terlihat kecil, komunikasi yang penuh semangat dan bebas dari cap negatif terbukti mampu membangun mentalitas juara pada anak.

Dara mengingatkan agar orang tua menjauhkan label-label buruk yang dapat mematikan potensi anak sejak dini. Pembentukan karakter yang disiplin dan taat beribadah, menurutnya, berakar dari kebiasaan baik yang dicontohkan secara konsisten di rumah.

"Semua anak adalah anak hebat. Tidak ada anak yang bodoh atau tidak baik. Tugas orang tua adalah membantu mereka menemukan potensi terbaiknya melalui lingkungan yang positif," kata Dara.

Di sisi lain, upaya membangun karakter anak melalui pola asuh yang baik di tingkat keluarga ini diharapkan dapat didukung penuh oleh ketersediaan fasilitas di lingkungan sekitar.

Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, mendorong agar setiap pengurus RT dan RW mulai menginisiasi pembuatan pojok perpustakaan mandiri. Keberadaan ruang literasi fisik di tengah permukiman, ia nilai sangat penting untuk memperluas cakrawala berpikir keluarga, sekaligus menjadi benteng penyaring di tengah derasnya arus informasi digital yang kini bebas dikonsumsi anak-anak.

Menurut Anton, budaya membaca yang dipupuk sejak dini di lingkungan terkecil akan merangsang lahirnya generasi yang kreatif dan gemar berkarya.

"Harapannya dengan bedah buku ini membuka wacana kepada warga masyarakat untuk paling tidak mempunyai sudut atau pojok perpustakaan di tiap-tiap RT-RW," kata Anton.

Gerakan edukasi pengasuhan berbasis literasi ini merupakan bagian dari target besar yang sedang dikejar oleh pemerintah daerah setempat. Pustakawan Ahli Pertama DPAD DIY, Erwin Novianto, menjelaskan bahwa instansinya menargetkan pelaksanaan program bedah buku di 200 lokasi strategis di seluruh wilayah DIY sepanjang tahun 2026.

Hingga memasuki pertengahan tahun ini, program edukasi tersebut telah sukses menyasar lebih dari 100 titik komunitas warga. Melalui pemilihan tema buku pengasuhan yang relevan, DPAD DIY berharap masyarakat tidak sekadar menjadi pembaca pasif, melainkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai pola asuh positif tersebut secara nyata dalam kehidupan domestik mereka.

Langkah masif ini diharapkan dapat mendongkrak Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di DIY sekaligus mencetak generasi masa depan yang berkarakter kuat dan berdaya saing tinggi. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online