BEDAH BUKU: Orang Tua Diminta Waspadai Dampak Media Sosial

Media Digital
Media Digital Jum'at, 17 Juli 2026 06:02 WIB
BEDAH BUKU: Orang Tua Diminta Waspadai Dampak Media Sosial

Suasana digelarnya bedah buku Anakku Terhebat Tips-Tips Membentuk Anak Menjadi yang Terhebat di Pendopo Gejawan Kulon, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Kamis (16/7)./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

SLEMAN - Perkembangan pesat teknologi digital membawa tantangan baru bagi pola pengasuhan anak. Orang tua kini dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak buruk penggunaan media sosial serta potensi gangguan kesehatan mental yang mengancam generasi muda. Kurangnya pengawasan dan komunikasi dinilai menjadi pintu masuk bagi berbagai kerentanan, mulai dari kejahatan siber hingga penyimpangan perilaku.

Hal itulah yang mendasari digelarnya bedah buku berjudul Anakku Terhebat: Tips-Tips Membentuk Anak Menjadi yang Terhebat yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Pendopo Gejawan Kulon, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, Kamis (16/7).

Praktisi pengasuhan anak, Dara Ayu Suharto, mengingatkan orang tua agar lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak. Media sosial saat ini membuka peluang interaksi tanpa batas dengan orang tidak dikenal yang memicu berbagai risiko, mulai dari penipuan hingga tindak kriminalitas. Apalagi, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) kini kerap disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melancarkan aksi penipuan digital yang menyasar anak-anak.

Selain ancaman fisik dan siber, Dara menekankan pentingnya kepekaan orang tua terhadap perubahan perilaku anak yang menjadi indikasi awal gangguan mental. Anak yang tiba-tiba menarik diri, enggan berinteraksi, atau kehilangan semangat harus segera didekati secara emosional. Menurutnya, status ekonomi atau tingkat pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang terbebas dari tekanan psikologis.

“Orang tua harus membangun komunikasi yang terbuka dan penuh kepercayaan. Jangan sampai anak merasa lebih nyaman di luar rumah dibandingkan di rumah sendiri. Kedekatan emosional menjadi benteng utama,” kata Dara.

Dara juga menyarankan pembatasan waktu penggunaan gawai melalui fitur khusus untuk meminimalkan paparan konten negatif.

Selaras dengan hal tersebut, perlindungan anak di era digital juga harus diperkuat melalui pemahaman batasan diri sejak usia dini. Redaktur Buku, Desy Wijaya, menilai bahwa pendidikan seks sejak kecil sangat krusial diajarkan oleh orang tua demi mencegah pelecehan seksual, yang kini modusnya makin marak berkembang di dunia maya maupun nyata. Mengajarkan bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain bukan lagi hal tabu, melainkan bentuk proteksi mendasar.

“Bagian tubuh apa saja yang tidak boleh dipegang oleh lawan jenis itu penting diajarkan agar anak paham dan berani bersuara jika mengalami perlakuan tidak pantas,” kata Desy.

Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, menyoroti maraknya kasus kenakalan remaja di jalanan yang berujung pada ranah hukum. Berdasarkan kunjungannya ke balai rehabilitasi anak, banyak remaja yang terlibat tindak pidana berat seperti pembunuhan dan pemerkosaan akibat renggangnya komunikasi dalam keluarga di tengah kepungan arus teknologi.

“Pendidikan karakter harus diperkuat sejak dini. Kami juga mendorong penyediaan ruang terbuka hijau di tingkat kalurahan sebagai wadah bermain, membaca, dan berdiskusi yang sehat bagi anak,” kata Anton.

Dia menambahkan, penguatan karakter berbasis budaya Jawa yang adiluhung dan nilai keistimewaan DIY penting agar generasi muda dapat melek teknologi tanpa kehilangan identitas moral mereka.

Degradasi Moral

Sebagai langkah nyata mengatasi krisis informasi dan degradasi moral akibat gawai, Pustakawan Ahli Pertama DPAD DIY, Erwin Novianto, menegaskan perlunya membangkitkan kembali budaya literasi di lingkungan keluarga dan masyarakat.

DPAD DIY gencar menggelar program bedah buku, salah satunya di Kalurahan Balecatur, Sleman, guna mendorong warga agar lebih kritis dalam memilah informasi di ruang digital.

Erwin menyayangkan fenomena masyarakat yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu menatap telepon seluler untuk media sosial tanpa menyaring validitas informasinya.

“Melalui penguatan literasi, masyarakat diharapkan kembali memanfaatkan perpustakaan dan mengakses bacaan yang valid untuk membimbing anak-anak mereka. Kemampuan memilah informasi adalah kunci agar keluarga tidak terjerumus pada dampak negatif era digital,” kata Erwin. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online