Petani Milenial di Kapanewon Patuk Diajak Menanam Bawang Merah

Media Digital
Media Digital Selasa, 07 Juli 2026 05:07 WIB
Petani Milenial di Kapanewon Patuk Diajak Menanam Bawang Merah

Suasana pelaksanaan bedah buku berjudul Budidaya Bawang Merah Asal Biji di Padukuhan Karang, Kalurahan Terbah, Kapanewon Patuk, Gunungkidul, Senin (6/7).// Harian Jogja -David Kurniawan

GUNUNGKIDUL - Wakil Ketua DPRD DIY, Imam Taufik, mengajak petani milenial di Kalurahan Terbah, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, untuk berani menanam komoditas bawang merah. Ajakan tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam bedah buku berjudul Budidaya Bawang Merah Asal Biji di Padukuhan Karang, Kalurahan Terbah, Senin (6/7).

"Petani milenial harus lebih giat lagi karena menjadi bagian penting dalam proses regenerasi di sektor pertanian," kata Imam Taufik.

Menurut dia, Pemerintah DIY sangat mendukung keberadaan petani milenial. Hal ini dibuktikan dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) DIY Nomor 11 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Selain memberikan perlindungan saat terjadi kegagalan panen melalui asuransi pertanian, regulasi tersebut juga membuka peluang pemberian permodalan bagi petani milenial.

Karena itu, Imam Taufik mengajak generasi muda, khususnya di Kalurahan Terbah, Kapanewon Patuk, untuk berani menjadi petani. Adapun komoditas yang dipilih adalah bawang merah karena memiliki nilai ekonomi yang baik. Selain itu, teknik budidayanya juga telah menggunakan inovasi, yakni tidak lagi memanfaatkan umbi, melainkan biji bawang merah.

Menurut dia, teknik menanam menggunakan biji memiliki banyak keunggulan. Selain ancaman hama yang lebih kecil, tingkat produktivitasnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya menggunakan umbi.

"Hasil panennya bisa mencapai 30 ton per hektare. Ini bisa menjadi peluang yang baik untuk meningkatkan pendapatan petani," katanya.

Hal senada disampaikan narasumber lainnya, Rajiman. Menurut dia, pangsa pasar bawang merah masih sangat terbuka karena DIY masih kekurangan pasokan sehingga harus mendatangkannya dari luar daerah.

"Sentra bawang merah yang paling dikenal di DIY adalah Kabupaten Bantul. Untuk Gunungkidul sudah mulai mengembangkan, tetapi memang masih perlu ditingkatkan," katanya.

Menurut Rajiman, teknik budidaya bawang merah menggunakan biji lebih unggul dibandingkan cara konvensional yang masih banyak diterapkan saat ini. Dengan metode tersebut, hasil panen dapat mencapai tiga kali lipat dibandingkan pola tanam menggunakan umbi. Selain itu, kebutuhan benih juga lebih sedikit.

Sebagai gambaran, untuk lahan seluas 1.000 meter persegi, biaya pembibitan menggunakan umbi mencapai sekitar Rp7 juta. Sementara itu, jika menggunakan biji hanya berkisar Rp2,5 juta. Dengan teknik ini, biaya produksi menjadi lebih rendah sehingga potensi keuntungan yang diperoleh petani lebih besar.

"Yang paling penting, bibit dari biji juga lebih tahan terhadap serangan hama," katanya.

Pustakawan Utama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Budiyono, mengatakan kegiatan bedah buku tersebut digelar bekerja sama dengan DPRD DIY. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan budaya literasi di masyarakat karena tingkat minat baca di Indonesia secara umum masih rendah.

"Bedah buku ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat," katanya.

Menurut Budiyono, kegiatan tersebut menghadirkan narasumber yang kompeten untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada masyarakat mengenai tema yang dibahas. Dengan demikian, masyarakat diharapkan memperoleh informasi yang benar, memahami materi yang disampaikan, serta mampu mengimplementasikannya dalam proses budidaya bawang merah. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online