UMKM Didorong Maksimalkan Media Sosial, Kunci Bertahan di Era Digital

Media Digital
Media Digital Jum'at, 12 Juni 2026 03:37 WIB
UMKM Didorong Maksimalkan Media Sosial, Kunci Bertahan di Era Digital

Bedah buku yang digelar DPAD bersama DPRD DIY di Grha BDS, Brontokusuman, Mergangsan, Kamis (11/6/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA-Pemanfaatan media sosial (medsos) disebut menjadi kunci bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk bertahan dan bahkan meningkatkan penghasilan di tengah perubahan pola ekonomi saat ini. Hal itu mengemuka dalam bedah buku bertajuk Pemasaran UMKM Melalui Media Sosial yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Grha BDS, Brontokusuman, Mergangsan, Kamis (11/6/2026).

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, salah satunya Yanuar Reza, yang menekankan pentingnya adaptasi pelaku usaha terhadap perkembangan digital. Ia menilai media sosial membuka peluang besar karena mampu menjangkau pasar lebih luas tanpa biaya besar. “Media sosial menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi ekonomi kita sekarang. Masih banyak orang bisa bertumbuh ekonominya karena media sosial,” ujar Yanuar, Kamis.

Ia mencontohkan pelaku usaha yang hanya mengandalkan media sosial seperti Instagram untuk memasarkan produk, namun tetap mampu menjangkau konsumen. Menurutnya, pelaku UMKM perlu memahami pola interaksi di media sosial agar promosi lebih efektif. “Kalau para pelaku usaha memanfaatkan Instagram, maka harus tahu kapan interaksi akun itu bagus, kapan harus posting, itu penting,” katanya.

Yanuar juga menyoroti munculnya profesi baru yang lahir dari tren media sosial, termasuk jasa memasak untuk pendaki gunung yang kemudian dipromosikan secara visual di platform digital. Fenomena tersebut menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang semakin dipengaruhi konten.

Selain itu, ia menegaskan bahwa pemasaran konvensional tetap bisa dilakukan, tetapi harus dilengkapi dengan strategi digital dengan media sosial sebagai sarana promosi gratis.

Ia juga mengingatkan pentingnya praktik langsung setelah pelatihan agar pelaku usaha benar-benar merasakan dampaknya.

Anggota DPRD DIY, Muhammad Syafi’i, menilai pemilihan buku yang dibedah sudah tepat karena berfokus pada penguatan ekonomi masyarakat. Ia berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi mampu memberikan panduan konkret bagi peserta.

“Bedah buku yang dilakukan di 2026 ini mengarah kepada buku-buku yang temanya tentang peningkatan ekonomi masyarakat. Jadi pemilihan judul kali ini sudah tepat,” katanya.

Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi UMKM saat ini, terutama kenaikan harga bahan baku yang berdampak pada biaya produksi. Kondisi tersebut dinilai perlu diimbangi dengan inovasi pemasaran agar usaha tetap berjalan.

Sementara, Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY, Budiyono, mengungkapkan kegiatan bedah buku merupakan upaya meningkatkan minat baca masyarakat yang masih tergolong rendah. “Di tingkat nasional, hanya satu dari 1.000 orang yang membaca, sementara di DIY, sudah ada 49 orang dari 1.000 orang yang membaca buku,” ujarnya.

Ia menjelaskan program bedah buku telah berjalan selama lima tahun terakhir dengan jumlah titik kegiatan yang cukup besar. Pada 2024 tercatat 222 titik, sedangkan pada 2026 digelar di sekitar 200 titik.

Melalui kegiatan ini, DPAD DIY berharap literasi masyarakat meningkat sekaligus.mampu mendorong pemanfaatan pengetahuan untuk penguatan ekonomi, khususnya bagi pelaku UMKM. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online