BEDAH BUKU: Membangun Keluarga Harus Berlandaskan Pengetahuan

Media Digital
Media Digital Sabtu, 18 Juli 2026 06:52 WIB
BEDAH BUKU: Membangun Keluarga Harus  Berlandaskan Pengetahuan

Anggota DPRD DIY Basit Sugiyanto memaparkan materinya dalam bedah buku di Warung Widy HD, Plosokarep, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Jumat (17/7)./ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

SLEMAN- Membangun keluarga yang kuat tidak cukup hanya dengan mengandalkan kasih sayang, tetapi juga memerlukan pengetahuan, literasi, dan komunikasi yang sehat di antara anggota keluarga. Pesan tersebut mengemuka dalam bedah buku berjudul Homepower, Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Warung Widy HD, Plosokerep, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Jumat (17/7).

Penulis buku Homepower, Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup, Taat Setyabudi, menilai rumah seharusnya menjadi ruang belajar yang aman bagi anak untuk bertumbuh, termasuk untuk melakukan kesalahan dan belajar dari pengalaman tersebut.

Menurutnya, orang tua tidak perlu menuntut anak selalu benar atau sempurna. Sebaliknya, keluarga perlu menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak mencoba, gagal, kemudian memperbaiki diri dengan pendampingan orang tua.

“Rumah itu tempat untuk salah, tempat praktik apa pun. Kadang-kadang anak melakukan kesalahan kecil langsung dimarahi, padahal proses belajar memang harus melalui kesalahan,” kata Taat, Jumat.

Dia mengibaratkan konsep tersebut seperti pasir di bawah ayunan anak. Pasir dipasang bukan agar anak tidak jatuh, melainkan agar ketika jatuh tidak mengalami cedera yang serius.

“Boleh jatuh, tetapi di tempat yang aman. Anak harus bertemu dengan realita dan belajar dari pengalaman tersebut,” katanya.

Menurut Taat, anak yang tidak pernah diberi kesempatan melakukan kesalahan berpotensi mengalami kesulitan ketika menghadapi persoalan di luar lingkungan keluarga. Karena itu, dia lebih memilih anak belajar dari kesalahan di rumah dibanding pertama kali menghadapinya di lingkungan sosial yang lebih luas.

Selain itu, keluarga juga perlu membangun aturan yang jelas dan berlaku bagi seluruh anggota keluarga, termasuk orang tua.

Salah satu aturan yang diterapkan di keluarganya adalah kewajiban meminta izin sebelum menggunakan barang milik anggota keluarga lain. Rumah, kata dia, juga perlu menjadi safe haven atau tempat yang nyaman bagi anak untuk kembali dan menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi.

“Kalau di rumah saja anak sudah takut salah, lalu di mana lagi ia bisa belajar?” katanya.

Budaya Membaca

Sementara itu, praktisi keluarga, Budi Wiyarno, menambahkan pengetahuan dan komunikasi menjadi modal penting bagi keluarga untuk menghadapi berbagai tantangan baru, termasuk pengaruh teknologi dan media sosial yang kini mudah masuk ke ruang privat masyarakat melalui telepon genggam.

“Intervensi sekarang itu masuk melalui ponsel,” kata Budi.

Keluarga perlu membangun budaya membaca dan kemampuan menyaring informasi sejak dini agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum tentu benar.

Anggota DPRD DIY, Basit Sugiyanto, mengatakan kegiatan bedah buku tersebut merupakan realisasi aspirasi masyarakat melalui dana pokok pikiran (pokir) DPRD DIY yang diajukan pada tahun sebelumnya.

“Ini salah satu bagian dari aspirasi masyarakat yang diajukan tahun lalu dan alhamdulillah dapat terlaksana tahun ini,” kata Basit.

Sementara itu, Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Muhammad Hadi Pranoto, mengatakan masyarakat saat ini menghadapi situasi ketika informasi tidak lagi dicari, melainkan datang sendiri melalui media sosial dan telepon genggam. Tanpa kemampuan membaca yang baik, masyarakat akan lebih mudah terpengaruh oleh hoaks maupun informasi yang menyesatkan.

“Kalau tidak rajin membaca dan memperkaya diri dengan literatur yang bertanggung jawab, maka kita tidak punya filter terhadap informasi yang datang,” katanya.

Sebagai upaya memperluas akses literasi, DPAD DIY menyediakan layanan Perpustakaan Digital iJogja yang menyediakan lebih dari 20.000 judul buku elektronik yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat.

Pustakawan Ahli Madya Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Muhammad Hadi Pranoto, mengatakan kegiatan bedah buku tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan budaya membaca di tengah masyarakat. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online