Sanata Dharma Jadi Tuan Rumah Kongres Alumni Jesuit Dunia

Media Digital
Media Digital Jum'at, 31 Juli 2026 10:02 WIB
Sanata Dharma Jadi Tuan Rumah Kongres Alumni Jesuit Dunia

Jaringan Pendidikan Jesuit Terbesar di Dunia Berkumpul di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta./ Ist

JOGJA— Selama lima hari, mulai 29 Juli hingga 2 Agustus 2026, Yogyakarta menjadi pusat pertemuan alumni pendidikan Jesuit dunia, salah satu jaringan pendidikan terbesar di dunia. Delegasi dari 57 negara berkumpul di Universitas Sanata Dharma (USD) untuk mengikuti Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) 2026, forum internasional yang mempertemukan alumni sekolah, kolese, dan universitas Jesuit dari berbagai belahan dunia.

Mengusung tema "United in Spirit, Leading with Purpose", kongres resmi dibuka pada Kamis (30/7/2026) di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma melalui prosesi pemukulan gong oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Pembukaan didampingi Superior General Serikat Yesus Fr. Arturo Sosa, SJ, Provinsial Jesuit Indonesia sekaligus Rektor Universitas Sanata Dharma Romo Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D., serta para pemimpin alumni Jesuit dunia.

Rangkaian kongres berlanjut pada Jumat (31/7/2026) dengan menghadirkan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A., yang dijadwalkan menyampaikan pidato dalam salah satu sesi utama sebagai bagian dari dialog mengenai kepemimpinan, perdamaian, dan masa depan pendidikan lintas budaya.

Terpilihnya Universitas Sanata Dharma sebagai tuan rumah kongres internasional ini menegaskan posisinya sebagai satu-satunya universitas Jesuit di Indonesia sekaligus bagian dari jejaring global pendidikan Jesuit yang menghubungkan lebih dari 170 universitas serta ratusan sekolah di berbagai negara.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Sanata Dharma, Romo Albertus Bagus Laksana, menyampaikan kebanggaannya karena kampus yang dipimpinnya dipercaya menjadi ruang perjumpaan alumni Jesuit dari seluruh dunia. Menurutnya, di tengah tantangan global yang semakin kompleks, dunia membutuhkan ruang dialog yang mampu menyatukan keberagaman.

Ia menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai "Babel Syndrome", yakni kecenderungan dunia modern yang hanya mengejar efisiensi dan keuntungan sehingga manusia direduksi menjadi sekadar angka dan data. Karena itu, ia mengajak seluruh jejaring alumni Jesuit dunia membangun kepemimpinan yang berakar pada semangat sinodalitas, yakni kepemimpinan yang lahir dari proses saling mendengarkan, berdialog, dan membedakan kehendak bersama demi kebaikan bersama.

Sri Sultan Hamengkubuwono X kemudian menghubungkan tema kongres dengan filosofi Jawa Sastra Gendhing, yaitu harmoni yang tercipta bukan karena semua orang menjadi sama, melainkan karena setiap perbedaan mampu berpadu menjadi kekuatan bersama. Sultan juga mengajak seluruh peserta merefleksikan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana, yakni semangat merawat kehidupan dan menjaga keindahan dunia, yang menurutnya sejalan dengan tradisi pendidikan Ignasian.

Pidato utama disampaikan oleh Fr. Arturo Sosa, SJ, pemimpin tertinggi Serikat Yesus di dunia. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa misi utama alumni Jesuit adalah menjadi mitra dalam karya rekonsiliasi, keadilan, dan perdamaian. Ia mengajak para peserta memberi perhatian pada enam isu strategis, yakni misi apostolik universal, tantangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), rekonsiliasi dan keadilan sosial, sinodalitas, interkulturalitas, serta masa depan pendidikan Jesuit.

Ketua Panitia Pelaksana, James W. Prakarsa, menjelaskan bahwa pemilihan Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma sebagai lokasi penyelenggaraan bukan tanpa alasan. Selain memiliki fasilitas yang memadai, Yogyakarta dinilai mampu merepresentasikan wajah Indonesia yang plural dan inklusif.

"Kami ingin menunjukkan keberagaman Yogyakarta kepada dunia. Walaupun kami berasal dari tradisi pendidikan Jesuit, para peserta dapat melihat bagaimana harmoni hidup berdampingan dengan warisan Hindu, Buddha, hingga budaya lokal seperti Gereja Ganjuran. Pengalaman inilah yang ingin kami bagikan kepada alumni Jesuit dari seluruh dunia," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Keluarga Alumni Sanata Dharma (Ikasadha), Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D., menyebut kongres ini sebagai momentum penting untuk memperkuat jejaring internasional alumni Jesuit sekaligus merumuskan kontribusi nyata terhadap berbagai isu global, mulai dari lingkungan hidup hingga kerukunan antarumat beragama.

Antusiasme peserta internasional terlihat sejak hari pertama penyelenggaraan. Rogerio Jr. Lee, Ketua Alumni Xavier University, Filipina, mengaku merasa seperti berada di rumah sendiri karena suasana tropis Yogyakarta yang hangat. Rekannya, Virgil Kim Navales, juga mengungkapkan kekagumannya terhadap Universitas Sanata Dharma yang menurutnya memiliki kampus yang luas dengan atmosfer akademik yang percaya diri. Ia pun mengaku tidak sabar mencicipi kuliner khas Yogyakarta, seperti gudeg.

Selama kongres berlangsung, para delegasi mengikuti berbagai agenda, mulai dari konferensi internasional, sidang umum, hingga diskusi mengenai kepemimpinan, ekologi, kecerdasan buatan, dan penguatan jejaring alumni Jesuit sedunia.

Bagi Universitas Sanata Dharma, kepercayaan menjadi tuan rumah WUJA 2026 bukan sekadar kesempatan menyelenggarakan konferensi internasional. Momentum ini menegaskan peran Sanata Dharma sebagai salah satu simpul penting dalam jejaring pendidikan Jesuit global yang mempertemukan para pemimpin, akademisi, profesional, dan alumni dari puluhan negara untuk bersama-sama membangun masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan. (Advertorial

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online