RSUD Wonosari Menggelar Diskusi Publik untuk Meningkatkan Pelayanan
RSUD Wonosari menggelar Forum Komunikasi Publik bertajuk Nyawiji Roso Nhupadi Waras Bareng, Selasa (18/8/2026), dengan tujuan untuk perbaikan kualitas pelayanan
Babak baru perjalanan kuliner Indonesia dimulai dengan hadirnya ROSO Restaurant Yogyakarta di Grand Hotel De Djokja pada 17 Agustus 2026. Lebih dari sekadar restoran, ROSO hadir sebagai destinasi gastronomi yang mengangkat kekayaan cita rasa Nusantara melalui pendekatan yang elegan, autentik, dan berkelas dunia./ Ist
Merayakan Warisan Rasa Indonesia dalam Ekspresi yang Elegan
JOGJA— Babak baru perjalanan kuliner Indonesia dimulai dengan hadirnya ROSO Restaurant Yogyakarta di Grand Hotel De Djokja pada 17 Agustus 2026. Lebih dari sekadar restoran, ROSO hadir sebagai destinasi gastronomi yang mengangkat kekayaan cita rasa Nusantara melalui pendekatan yang elegan, autentik, dan berkelas dunia.
Berlandaskan filosofi The Finest Expression of Indonesian Taste, ROSO menghadirkan pengalaman bersantap yang merayakan Indonesia tidak hanya melalui rasa, tetapi juga cerita, budaya, tradisi, dan manusia di balik setiap hidangan. Setiap menu dirancang untuk mengajak tamu menjelajahi kepulauan Indonesia melalui bahasa yang paling universal, yakni makanan.
Pembukaan ROSO Yogyakarta ditandai dengan Opening Dinner, yang tidak hanya menjadi penanda hadirnya restoran baru, tetapi juga simbol perjalanan gagasan yang pertama kali tumbuh di Bali dan kini menemukan rumah baru di Yogyakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Chef Ketut Gede Arya Prima Udayana (Chef Prima) dan Chef Komang Kardana (Chef Kardana) dari ROSO Bali berkolaborasi dengan Chef Kolibin, Head Chef ROSO Yogyakarta. Kolaborasi ini menghadirkan pengalaman kuliner yang merepresentasikan semangat, filosofi, dan masa depan gastronomi Indonesia.
Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi simbol estafet nilai dan visi dari ROSO Bali kepada ROSO Yogyakarta. Keduanya memiliki komitmen yang sama terhadap keaslian cita rasa, penghormatan terhadap budaya, serta standar pelayanan yang mengedepankan kehangatan khas Indonesia.
Para tamu diajak menikmati Seven-Courses Journey, rangkaian tujuh hidangan yang disusun sebagai perjalanan rasa melintasi Nusantara. Setiap hidangan menghadirkan interpretasi modern terhadap tradisi kuliner Indonesia, dengan memadukan teknik gastronomi kontemporer dan resep yang diwariskan lintas generasi.
Perjalanan dimulai dengan penghormatan terhadap salah satu bahan pangan paling ikonik di Indonesia, yakni tempe.
Melalui hidangan bertajuk Tempe dalam Gegurit Rasa, ROSO menghadirkan tempe dalam ekspresi yang berbeda. Terdiri atas Lemper Tempe, Tempe Coin, dan Tempe Cone, sajian tersebut mengeksplorasi tekstur, aroma, dan rasa melalui pendekatan modern tanpa menghilangkan akar budayanya.
Dari Jawa, perjalanan berlanjut ke Sumatra Utara melalui Naniura, salah satu warisan kuliner masyarakat Batak. Menggunakan salmon premium yang diproses dengan lebih dari 20 jenis rempah Nusantara, hidangan ini menghadirkan cita rasa segar, kompleks, dan penuh karakter. Naniura juga memiliki kaitan erat dengan upacara adat dan perayaan istimewa masyarakat Batak.
Dari Pulau Dewata, hadir Lobster Base Genep, interpretasi elegan dari bumbu legendaris Bali yang dipadukan dengan butter-poached lobster tail, basil segar, dan daun bawang bakar. Hidangan ini menunjukkan bagaimana kekayaan rempah Bali dapat diterjemahkan ke dalam pengalaman fine dining yang modern.
Sementara itu, Sampi Menyat-Nyat menghadirkan karakter Bali yang lebih berani dan mendalam. US Prime Beef Short Ribs dimasak perlahan hingga lembut, kemudian dipadukan dengan nangka muda, biji-bijian lokal, serta sambal embe yang aromatik. Hidangan tersebut mencerminkan kehangatan, ketulusan, dan keramahan yang menjadi bagian dari jiwa hospitality Indonesia.
Sebagai penghormatan kepada daerah tempat ROSO Yogyakarta berdiri, perjalanan kuliner tersebut juga menghadirkan Manuk Nom, hidangan yang terinspirasi dari tradisi kuliner Keraton Yogyakarta. Mengangkat cita rasa yang dahulu hadir dalam berbagai perjamuan kerajaan, hidangan ini menjadi jembatan antara keanggunan budaya keraton dan kehangatan kuliner yang berkembang di tengah masyarakat Yogyakarta.
Lebih dari sekadar rangkaian menu, Seven-Courses Journey menjadi representasi filosofi yang akan terus menjadi fondasi ROSO.
Setiap hidangan membawa cerita. Setiap bahan memiliki asal-usul. Setiap sajian menjadi media untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia melalui pengalaman yang berkesan.
Pengalaman kuliner yang diperkenalkan dalam malam pembukaan tersebut juga tidak berhenti sebagai sajian satu malam. Para tamu nantinya dapat menikmati rangkaian menu kolaborasi tersebut sebagai bagian dari pengalaman bersantap di ROSO Yogyakarta sekaligus menemukan inspirasi cita rasa yang juga hadir di ROSO Bali.
Hubungan kedua destinasi tersebut menghadirkan dua interpretasi berbeda dari satu filosofi yang sama. Satu berakar di Bali, sementara yang lain tumbuh di Yogyakarta. Keduanya dipersatukan oleh penghormatan terhadap kekayaan kuliner Indonesia.
General Manager Grand Hotel De Djokja, Andreas Kahl, mengatakan kehadiran ROSO merupakan bagian penting dari transformasi hotel menuju babak baru sebagai destinasi heritage luxury di Yogyakarta.
"ROSO adalah perwujudan dari apa yang ingin kami hadirkan di Grand Hotel De Djokja, sebuah pengalaman yang berakar kuat pada budaya Indonesia, tetapi disajikan dengan standar hospitality kelas dunia. Kami percaya bahwa warisan kuliner Indonesia memiliki kualitas dan kedalaman yang layak ditempatkan sejajar dengan destinasi gastronomi terbaik di dunia. Melalui ROSO, kami mengundang para tamu untuk merasakan Indonesia dengan cara yang lebih mendalam, personal, dan berkesan," ujarnya.
Sementara itu, Director of Food & Beverage sekaligus Executive Chef Grand Hotel De Djokja, Philip Walasary, menjelaskan bahwa menghadirkan kuliner Indonesia dalam presentasi yang elegan membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan memasak.
"Kuliner Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa. Rempah yang berlapis, aroma yang khas, dan bumbu yang begitu kuat menjadikan setiap hidangan memiliki karakter yang unik. Karena itu, para talenta kuliner di ROSO tidak dapat menyajikan hidangan secara sembarangan. Mereka harus memahami sejarah di balik setiap makanan, mengenali nilai budaya yang membentuknya, serta menemukan kembali cita rasa yang tepat," katanya.
Menurutnya, cita rasa tersebut harus mampu membangkitkan kenangan masa kecil, kehangatan masakan warisan, dan kekhasan daerah yang tidak tergantikan.
"Di ROSO, kami tidak berupaya mengubah identitas kuliner Indonesia. Sebaliknya, kami berusaha menghormati dan mengangkatnya melalui teknik, presentasi, dan pelayanan yang lebih modern, sehingga setiap tamu dapat merasakan kembali keaslian rasa Indonesia dalam bentuk yang elegan dan berkesan," ujarnya.
Bersama Grand Hotel De Djokja yang tengah memasuki babak baru sebagai ikon heritage luxury di Yogyakarta, ROSO memperkuat komitmen menghadirkan pengalaman yang tidak hanya memanjakan indera, tetapi juga memperkaya pemahaman terhadap budaya Indonesia.
Pada akhirnya, ROSO hadir bukan hanya untuk melestarikan warisan kuliner Nusantara, tetapi juga membuatnya tetap hidup, terus dirasakan, dirayakan, dan diceritakan kepada generasi mendatang. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RSUD Wonosari menggelar Forum Komunikasi Publik bertajuk Nyawiji Roso Nhupadi Waras Bareng, Selasa (18/8/2026), dengan tujuan untuk perbaikan kualitas pelayanan
Vietnam vs Malaysia bertemu di semifinal leg kedua Piala AFF 2026 malam ini pukul 20.00 WIB. Simak jadwal dan link live streaming.
Profil Letkol Pnb Oliv Rizando, penerbang TNI AU yang memimpin aksi udara Rafale dalam peringatan HUT RI ke-81 pada 17 Agustus 2026.
Garuda Indonesia menguji konektivitas internet cepat di pesawat hingga video call. Implementasi bertahap diproyeksikan mulai 2027.
INNSiDE by Meliá Yogyakarta mempererat hubungan dan sinergi dengan pelaku industri pariwisata melalui Travel Agent Gathering yang digelar Selasa (18/8/2026)
Harga pangan hari ini mencatat cabai rawit merah Rp67.350 per kg. Simak harga beras, telur, daging, gula, dan minyak goreng.