100 Dalang Cilik Meriahkan Malioboro, Buktikan Wayang Terus Beregenerasi

Media Digital
Media Digital Sabtu, 29 Agustus 2026 16:12 WIB
100 Dalang Cilik Meriahkan Malioboro, Buktikan Wayang Terus Beregenerasi

Salah satu panggung pertunjukan 100 dalang 1000 wayang yang digelar di pedestrian Jalan Malioboro, Kota Jogja, pada Sabtu (29/8/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

JOGJA — Malioboro tak hanya dipenuhi wisatawan dan hiruk-pikuk aktivitas kota pada Sabtu (29/8/2026). Sebanyak 100 dalang cilik mengambil alih 20 titik pertunjukan untuk memainkan wayang dalam event 100 Dalang 1000 Wayang yang digelar sepanjang pedestrian Jalan Malioboro, Kota Jogja, sejak pukul 10.00 WIB hingga malam.

Para dalang cilik tersebut datang dari sejumlah wilayah, mulai dari Kota Jogja, Sleman, hingga Bantul. Usia mereka juga terbilang sangat muda, mulai sekitar 6 tahun atau tingkat TK hingga siswa SMP.

Ketua Produksi event 100 Dalang 1000 Wayang, Fani Rickyansyah, mengatakan pertunjukan tersebut digelar untuk menyemarakkan Bulan Warisan Dunia sekaligus mengenalkan wayang sebagai warisan budaya dunia kepada masyarakat secara lebih luas.

"Kami ingin meng-highlight salah satu warisan budaya dunia, yaitu wayang, untuk diperkenalkan secara lebih masif dengan kemasan yang lebih menarik kepada masyarakat umum," kata Ricky di sela pertunjukan.

Menurutnya, pemilihan Malioboro sebagai lokasi pertunjukan bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut menjadi salah satu pusat kunjungan wisatawan sehingga pesan mengenai pentingnya menjaga wayang sebagai warisan budaya dapat menjangkau masyarakat lokal sekaligus wisatawan yang datang ke Jogja.

Selain memperkenalkan wayang, Ricky menyebut keterlibatan anak-anak menjadi bagian penting dari konsep kegiatan tersebut. Ratusan dalang cilik itu dinilai menunjukkan bahwa regenerasi di dunia pedalangan masih terus berjalan.

"Kami juga ingin menunjukkan bahwa regenerasi dunia pedalangan, khususnya para pencinta dan pemerhati wayang, sudah semakin banyak. Jadi, ke depan kami tidak khawatir warisan budaya ini tidak ada yang mengopeni atau mewariskannya," ujarnya.

Ricky menjelaskan para dalang cilik yang terlibat bukan anak-anak yang baru mengenal wayang. Mereka telah belajar mendalang dan sebagian besar tergabung dalam sanggar-sanggar pedalangan di kabupaten/kota masing-masing.

Mereka rutin berlatih bersama di sanggar dan mendapatkan pembelajaran dari para guru pedalangan. Menurut Ricky, media sosial juga turut membuka akses bagi anak-anak untuk mengenal wayang hingga akhirnya tertarik mempelajarinya lebih jauh.

"Media sosial sekarang membuka jaringan secara luas tentang wayang. Anak-anak yang awalnya tidak tahu wayang kemudian melihatnya di media sosial, tertarik, lalu mencari sanggar, guru, dan teman-teman untuk belajar mendalang," katanya.

Hal tersebut terlihat dari pengalaman sejumlah dalang cilik yang ikut tampil di Malioboro. Leon, siswa kelas 7 SMP Pangudi Luhur Moyudan, Sleman, misalnya, mulai belajar mendalang sejak kelas 5 SD setelah mengenal wayang dari sang kakak.

“Ikut (jejak) kakak, dia dalang juga. Awalnya yang ngenalin ayah, tapi bukan dalang,” katanya sebelum mendapat giliran pentas.

Sementara itu, Kenzy Rizky, siswa kelas 5 SD Jetisharjo, Kota Jogja, mulai belajar mendalang sejak kelas 1 SD. Ketertarikannya tumbuh setelah sang kakek, yang dahulu merupakan dalang, memberinya wayang.

Berbeda lagi dengan Danes yang mulai belajar mendalang sejak kelas 2 SD. Siswa kelas 6 SD tersebut mengenal wayang setelah kerap diajak menonton pertunjukan wayang oleh sang ayah.

Ketiganya mengaku antusias tampil di Malioboro. Bagi mereka, panggung di tengah kawasan wisata tersebut bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa wayang masih memiliki tempat di kalangan anak-anak.

Kehadiran para dalang cilik di sepanjang Malioboro sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian wayang dapat dilakukan dengan melibatkan generasi muda secara langsung. Melalui kesempatan tampil di ruang publik, anak-anak tidak hanya belajar memainkan wayang, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenalkan budaya kepada masyarakat luas.

Rangkaian pertunjukan 100 Dalang 1000 Wayang diharapkan dapat menjadi ruang bertemunya generasi muda dengan masyarakat sekaligus memperkuat kecintaan terhadap wayang. Dengan adanya regenerasi sejak usia dini, keberadaan wayang sebagai warisan budaya dunia diharapkan tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.(Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online