Satu Jiwa, Satu Rasa, dari Kulonprogo untuk Indonesia
Peringatan Hari Jadi ke-75 Kulon Progo menyoroti pembangunan rumah sakit Rp170 miliar, infrastruktur jalan, penataan sekolah, serta komitmen menjaga pelayanan
Suasana lomba wiru jarik diselenggarakan pada Senin (31/8/2026) di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman dalam rangka Memetri Kaistimewan, 14 Tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
SLEMAN -- Lomba wiru jarik dan permainan dakon digelar di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, Senin (31/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Memetri Kaistimewan dalam memperingati 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY.
Ajang tersebut diselenggarakan sebagai upaya nyata melestarikan (nguri-nguri) kebudayaan sekaligus merawat nilai-nilai Keistimewaan DIY.
Carik Tamanmartani yang turut terlibat dalam kepanitiaan Memetri Kaistimewan, Tomi Nugraha, mengatakan lomba wiru jarik menjadi salah satu upaya untuk melestarikan budaya. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya merawat keistimewaan DIY.
"Wiru jarik ini kan juga bagian dari keistimewaan juga. Sehingga kita juga mulai mengajak kepada masyarakat untuk tetap nguri-nguri budaya ini," kata Tomi saat ditemui, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, wiru jarik bukan keterampilan yang mudah dipelajari. Karena itu, lomba tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tertarik mempelajari wiru jarik sekaligus mengasah keterampilan mereka.
"Harapan kami dengan adanya lomba ini nanti masyarakat banyak belajar terkait wiru jarik," tuturnya.
Tomi mengatakan lomba wiru jarik tahun ini diikuti 22 peserta. Masing-masing peserta mewakili 22 padukuhan yang ada di Kalurahan Tamanmartani.
"Peserta itu ada batasannya, hanya maksimal sampai umur 50 tahun untuk yang wiru jarik. Sehingga tidak ada kategori yang lainnya, karena cuma satu kategori itu saja," jelas Tomi.
Selain lomba wiru jarik, panitia juga menggelar lomba permainan tradisional dakon. Lomba tersebut diikuti 22 peserta yang masing-masing mewakili padukuhan di Tamanmartani.
Tomi menerangkan lomba dakon diperuntukkan bagi anak-anak dengan batas usia maksimal 12 tahun. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.
"Dakon itu ada yang mulai tidak mengenal. Ini kita kenalkan lagi supaya nanti harapannya anak-anak itu bisa main, di rumah pun bisa main," tandasnya.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan antarwarga di 22 padukuhan Tamanmartani. Melalui lomba yang mengangkat keterampilan dan permainan tradisional, masyarakat tidak hanya diajak berkompetisi, tetapi juga kembali mengenal budaya yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan sehingga tradisi lokal tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Peringatan Hari Jadi ke-75 Kulon Progo menyoroti pembangunan rumah sakit Rp170 miliar, infrastruktur jalan, penataan sekolah, serta komitmen menjaga pelayanan
Kapolri Suyudi Ario Seto meminta MUI Pusat mengkaji fatwa haram vape menyusul ancaman peredaran narkotika cair melalui rokok elektrik.
DPAD DIY bersama DPRD DIY mendorong penguatan literasi dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan daya saing UMKM serta mengembangkan potensi wisata lokal di
Nusron Wahid kembali mangkir dari pemeriksaan KPK. Penyidik mempertimbangkan pemanggilan ulang hingga jemput paksa dalam kasus Rp106,3 miliar.
Juventus menang 2-1 atas Celta Vigo di Liga Europa 2026/27. Gol Randal Kolo Muani pada injury time memastikan tiga poin bagi Bianconeri.
Cek jadwal Samsat Bantul Oktober 2026, mulai Samsat Keliling, Jempol Si Panda, SABITA, hingga layanan pajak kendaraan malam hari.