Antusiasme Warga Padati Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY

Media Digital
Media Digital Selasa, 01 September 2026 05:22 WIB
Antusiasme Warga Padati Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY

Peserta kirab dengan busana Gagrak Ngayogyakarta duduk khidmat dalam Puncak Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY pada Senin (31/8/2026) di Balai Budaya Tamanmartani./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati.

SLEMAN — Ratusan warga memadati kompleks Balai Budaya Tamanmartani, Kalasan, Sleman, untuk menyaksikan Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY, Senin (31/8/2026). Antusiasme warga terlihat saat menyambut rombongan kirab budaya hingga berburu jajanan di stan UMKM.

Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY dimeriahkan dengan kirab budaya yang melibatkan ratusan warga dari berbagai elemen. Rombongan kirab disambut masyarakat yang sejak tadi menunggu di kompleks Balai Budaya Tamanmartani.

Begitu rombongan kirab melintas, warga langsung mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen. Rombongan tampil dengan beragam busana yang lekat dengan budaya Jawa. Mereka juga memanggul berbagai makanan dan hasil bumi sebagai bagian dari kirab.

Sesampainya di depan panggung utama Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY, rombongan kirab berjajar dengan rapi. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tari yang mengusung nilai-nilai luhur budaya.

Masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, anak muda hingga anak-anak, tampak antusias menikmati seluruh rangkaian acara yang disuguhkan.

Salah satu warga yang hadir, Irah Darminto, mengaku gembira mengikuti Puncak Memetri Kaistimewaan. Menurutnya, berbagai sajian kegiatan yang dihadirkan memberikan kesan tersendiri.

"Sae. Semuanya [berkesan], soalnya kan ini budaya, jadi jarang toh yang mengadakan budaya seperti ini," kata Irah.

Kegiatan tersebut menjadi pengalaman pertama bagi Irah menghadiri Puncak Memetri Kaistimewaan.

"Kalau saya baru ke sini satu kali ini," tandasnya.

Perempuan asal Tamanmartani itu juga mengaku senang dengan berbagai produk UMKM yang dihadirkan dalam acara tersebut. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah nasi berkat yang dijajakan pelaku UMKM.

"Saya dari keliling-keliling ini ada jajanannya komplit, ada nasi berkat. Ini kan enggak pernah, kalau di sini kan yang jualan jarang. Ini saya minta nomornya," tutur Irah sambil menunjukkan sebungkus nasi berkat yang dibelinya.

Selain menikmati sajian UMKM, Irah juga senang menyaksikan festival memedi sawah atau orang-orangan sawah yang menjadi bagian dari Puncak Memetri Kaistimewaan kali ini. Melihat berbagai bentuk orang-orangan sawah membuat perempuan berusia 67 tahun tersebut bernostalgia dengan masa kecilnya ketika ikut mengusir burung di sawah.

"Kreatif, unik, senang [lihat orang-orangan sawah]. Soalnya saya dulu juga kadang mengusir burung di sawah itu loh. Jadi kan ingat masa kecil saya," tuturnya.

"Saya di sawah mengusir burung pakai prok-prok itu namanya," lanjutnya.

Di akhir, Irah berharap kegiatan yang mengangkat budaya dan potensi lokal seperti ini dapat terus digelar serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Ya, semakin maju, semakin banyak UMKM ini kan semakin banyak untuk menolong warga Tamanmartani dan semoga sukses selalu," ujarnya.

Dampak Nyata Keistimewaan

Dampak nyata Keistimewaan DIY juga dirasakan oleh pelaku UMKM yang terlibat dalam Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY. Salah satunya Astuti, pelaku UMKM asal Tamanmartani.

Astuti mengaku senang karena UMKM lokal mendapat ruang untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

"Bagus, soalnya baru sekali ini ya. Ini udah bagus banget. Kalau saya ya senang. Alhamdulillah untuk UMKM-nya juga bisa dilibatkan," tuturnya.

Dalam acara tersebut, nasi berkat daun jati yang dijajakan Astuti laris dibeli masyarakat. Dengan harga Rp5.000 per bungkus, hidangan tradisional itu menarik perhatian pengunjung.

"Alhamdulillah mereka pada senang, ramai. Iya, kan baru ini. Kalau dulu-dulu kan enggak ada. Nanti mungkin ke depannya mudah-mudahan bisa lebih maju, lebih lancar, berkah," ungkap perempuan asli Tamanmartani tersebut.

Astuti mengatakan puluhan nasi berkat telah terjual hingga menjelang petang. Berdasarkan catatannya, sekitar 50-70 bungkus nasi berkat daun jati ludes dibeli pengunjung.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online