Lima Jodhang Hasil Bumi Warnai Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY

Media Digital
Media Digital Selasa, 01 September 2026 05:32 WIB
Lima Jodhang Hasil Bumi Warnai Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY

Jodhang berisi hasil bumi dari empat kabupaten dan satu kota di DIY diserahkan dalam Puncak Memetri Kaistimewan 14 Tahun Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, Senin (31/8/2026)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati

SLEMAN — Lima jodhang berisi hasil bumi dari empat kabupaten dan satu kota di DIY diserahkan dalam Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, Senin (31/8/2026). Tradisi Pasrah Jodhang oleh Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan Nayantaka ini menjadi simbol gotong royong sekaligus penanda bahwa keistimewaan merupakan milik seluruh masyarakat Yogyakarta.

Pasrah Jodhang dilakukan oleh Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan Nayantaka DIY kepada Sekretaris Daerah (Sekda) DIY yang diwakili Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini.

Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan Nayantaka DIY, Gandang Hardjanata, mengatakan Pasrah Jodhang merupakan wujud bahwa keistimewaan bukan hanya milik pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat Yogyakarta. Nayantaka menyerahkan lima jodhang yang mewakili empat kabupaten dan satu kota di DIY.

"Ada lima [jodhang], kan empat kabupaten, satu kotamadya. Jadi kelurahan-kelurahan yang di kota juga memberikan jodhang, selain empat kabupaten," terang Gandang.

Jodhang yang diserahkan berisi hasil bumi yang dihasilkan masyarakat. Menurut Gandang, penggunaan jodhang juga memiliki makna kebersamaan karena proses membawanya dilakukan secara gotong royong.

"Hampir setiap kegiatan di masyarakat kita namanya jodhang, itu kan wadah tempat makanan, membawa makanan biar enggak kena debu. Kenapa jodhang? Karena yang membawa aja harus orang empat, berarti kan gotong royong," ujarnya.

"Kalau cuma dibawa tampah kan bisa. Tapi kenapa kok enggak dibawa tampah, kok harus pakai jodhang? Ini kan wujud juga dari gotong royong masyarakat," tandas Gandang.

Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY di Balai Budaya Tamanmartani dimeriahkan dengan berbagai kegiatan. Pada pagi hari, digelar lomba dakon dan lomba wiru jarik.

Pada siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan Sinau Sejarah yang diikuti para pelajar. Dalam kegiatan tersebut, para pelajar mendapatkan pengetahuan mengenai sejarah panjang yang melatarbelakangi keistimewaan Yogyakarta.

"Ada acara sinau bersama tadi dari SMA dan SMK. Kita menyampaikan sejarah tentang Jogja. Bagaimana Jogja itu kok bisa istimewa," ujarnya.

Sore harinya, Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY dimeriahkan dengan kirab budaya. Kirab tersebut melibatkan warga dari 22 padukuhan dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat yang menyaksikannya.

"Sore harinya kirab. Ini kan berarti warga dari 22 padukuhan. Antusias warga kan pengin mengekspresikan. Nanti puncak acaranya kan ada kesenian malam nanti," ujarnya.

Menurut Gandang, berbagai kegiatan dalam Puncak Memetri Kaistimewaan 14 Tahun UUK DIY menjadi bentuk nyata pelestarian keistimewaan. Peringatan tidak hanya dilakukan secara simbolis, tetapi juga melibatkan masyarakat secara langsung.

"Jadi betul-betul supaya pesta ataupun perayaan atau peringatan ini itu juga mengajak warga. Jadi warga bukan lagi objek, tapi juga subjek kan," tegasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online