Dominasi Final! Bank Jateng Raih Juara Divisi 3 Liga Jasa Keuangan 2026
Tim basket Bank Jateng menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih gelar juara Divisi 3 Liga Jasa Keuangan (LJK) 2026
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, sedang menyampaikan kejutan dalam penyelenggaraan Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 di Unit 1 Pemda Sleman, Beran, Tridadi, Selasa (8/9/2026)./ Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono
SLEMAN—Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 mengusung tema “Aksara”. Melalui tema tersebut, penyelenggara mengajak masyarakat membaca kembali kebudayaan Yogyakarta. Aksara tidak hanya dimaknai sebagai bentuk atau sistem tulisan, tetapi juga sebagai medium untuk melihat kembali pengetahuan, pengalaman, nilai, dan praktik kebudayaan masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan tema “Aksara” tidak boleh dipersempit hanya pada persoalan tulisan. Aksara dimaknai sebagai cara untuk membaca kembali Yogyakarta, terutama karena aksara menjadi bagian dari proses komunikasi dan transfer pengetahuan.
Proses transfer pengetahuan tersebut kemudian menciptakan ruang pertemuan berbagai unsur ekosistem kebudayaan, mulai dari objek kebudayaan, pelaku seni dan budaya hingga masyarakat sebagai pemilik kebudayaan.
Atas dasar itu, Dian menyebut FKY sebagai titik temu. FKY tidak sekadar menjadi ruang apresiasi yang memberikan kesempatan bagi pelaku budaya untuk tampil, tetapi juga dirancang sebagai ruang aktivasi sehingga masyarakat turut terlibat dalam ekosistem kebudayaan.

Masyarakat diajak mempertanyakan kembali identitas, tujuan, serta nilai-nilai kebudayaan yang perlu diwariskan, diperkuat maupun diarahkan kembali.
Dian mengatakan kebudayaan tidak pernah selesai. Karena itu, FKY 2026 tidak ingin berhenti pada ukuran jumlah pengunjung, pertunjukan, pergerakan UMKM maupun jumlah objek kebudayaan yang diintervensi.
“Tidak hanya berhenti pada angka-angka statistik,” kata Dian kepada wartawan di Unit 1 Pemda Sleman, Beran, Tridadi, Selasa (8/9/2026).
Organizing Pasar dan Aktivasi FKY, Deo Oliftyansi, mengatakan konsep pasar pada FKY 2026 dibuat dalam tiga bentuk.
Pertama, Pasar Statis atau Pasar Pangkon yang menghadirkan komoditas secara konsisten sejak hari pertama hingga hari ketujuh.
Kedua, Pasar Tematik dengan pedagang yang berganti setiap hari. Hari pertama diisi kelompok dari Provinsi DIY, kemudian hari kedua hingga keenam diisi secara bergiliran oleh kabupaten/kota se-DIY. Pada hari terakhir, pasar kembali diisi oleh Provinsi DIY.
Ketiga, pasar berjalan atau pasar ngecer yang disebut Pasar Wigyan. Konsep ini terinspirasi dari pertunjukan performatif mobile serving dan akan berkolaborasi dengan seniman tari.
Pasar berjalan tersebut nantinya membantu tenant memasarkan atau menitipkan produk dagangannya kepada masyarakat.
Selain pasar, FKY juga menghadirkan sejumlah aktivitas seperti Ayo Dolanan, Pojok Sorot yang berkolaborasi dengan Festival Film Pelajar Yogyakarta (FFPJ), serta talkshow dan workshop.
Dua panggung, yakni Panggung Taling dan Panggung Tarung, juga disiapkan dengan pertunjukan yang berganti setiap hari.
Deo menambahkan pendekatan terhadap tenant tidak diarahkan sekadar pada transaksi jual beli. Tenant didorong menghadirkan storytelling agar masyarakat dapat mengenal cerita di balik produk yang mereka tawarkan.
Kurator sekaligus Direktur Artistik FKY 2026, Anang Saptoto, mengatakan kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan kesenian. Praktik warga yang dilakukan secara konsisten selama ratusan tahun hingga sekarang juga menjadi bagian dari kebudayaan.
Dalam FKY 2026, praktik sehari-hari masyarakat akan dibahasakan oleh para seniman melalui karya yang merespons tema bahasa dan aksara. Karena itu, Anang menekankan karya seni yang ditampilkan dalam FKY harus memiliki fungsi.
“Kata kuncinya itu karya seni di FKY ini berfungsi,” kata Anang.
Konsep kuratorial seni terapan tersebut kemudian dibagi menjadi dua bagian, yakni kuratorial infrastruktur serta kuratorial kolaborator penampil warga.
Selain mengangkat aksara dan praktik kebudayaan, FKY 2026 juga memanfaatkan sejarah lokasi penyelenggaraan festival. Anang menyebut lokasi tersebut sekitar 152 tahun lalu merupakan kawasan Pabrik Gula Beran yang mulai beroperasi pada 1874 dan berhenti menanam tebu sekitar 1933.
Sejarah tersebut kemudian diangkat kelompok seniman Geger Boyo melalui desain panggung FKY. Karya tersebut akan menarasikan sejarah lokasi penyelenggaraan FKY kepada masyarakat. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tim basket Bank Jateng menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih gelar juara Divisi 3 Liga Jasa Keuangan (LJK) 2026
BSI meraih posisi lima besar Grand Champion Danantara CX100 Award 2026 dan peringkat keempat kategori Financial berkat komitmen meningkatkan kualitas layanan ba
Anggaran Transfer ke Daerah turun dari Rp848,52 triliun pada 2025 menjadi Rp727,2 triliun pada 2026. Ekonom menyoroti risiko resentralisasi.
Harga BBM 15 Oktober 2026 di Pertamina, BP, Vivo, dan Shell tidak berubah. Pertamax Rp15.950, Pertalite Rp10.000 per liter.
Fadli Zon berharap peserta IPCC 2026 membawa budaya Indonesia ke negara masing-masing setelah mengikuti residensi seni di Jogja selama 10 hari.
BPD DIY memperkuat sinergi dengan Pemkab Kulon Progo melalui penyaluran kredit lebih dari Rp1,1 triliun, digitalisasi transaksi, pemberdayaan UMKM, dan penyalur