Hindari Jebakan Psikologis Judol dengan Membaca

Media Digital
Media Digital Jum'at, 25 September 2026 06:22 WIB
Hindari Jebakan Psikologis Judol dengan Membaca

Pustakawan Ahli Madya DPAD DIY, Muhammad Hadi Pranoto memaparkan materi bedah buku yang digelar di Balai Darmais, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kulonprogo, Kamis (24/9)./ Harian Jogja - Khairul Ma'arif

KULONPROGO—Fenomena keterpaparan masyarakat terhadap praktik judi online (judol) kini semakin mengkhawatirkan. Tidak lagi terbatas pada kalangan atau gender tertentu, kemudahan akses teknologi hingga opsi taruhan berbiaya murah kini menyasar berbagai lapisan masyarakat, termasuk kelompok ibu rumah tangga.

Isu tersebut menjadi bahasan utama dalam bedah buku berjudul Menang Sekejap Lost Forever; Fenomena Tragis Judi Online yang Menjerat 4 Juta Orang Indonesia yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Balai Darmais, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih, Kulonprogo, Kamis (24/9).

Dalam kesempatan tersebut, praktisi literasi, Septi Nur Wulan Mulatmi, menyoroti kemudahan transaksi digital yang kini dimanfaatkan platform judol untuk menjaring korban baru.

“Sekarang tidak hanya bapak-bapak saja, ibu-ibu juga ada yang terjerat judol. Biasanya bermula dari modal rekreasi atau melepas lelah, misalnya sehabis mencuci baju, lalu coba-coba taruhan hanya Rp5.000 menggunakan sisa saldo dompet digital. Sekarang makin mudah karena bisa pakai uang virtual seperti DANA, OVO, hingga GoPay,” kata dia dalam bedah buku tersebut.

Dia menambahkan kemudahan deposit dengan biaya murah yang dibalut penggunaan dompet digital serta gempuran iklan secara masif membuat masyarakat semakin rentan terjerat tanpa menyadarinya.

Senada, editor buku Menang Sekejap Lost Forever; Fenomena Tragis Judi Online yang Menjerat 4 Juta Orang Indonesia, Rio Anggi Fernando, mengupas manipulasi psikologis yang sengaja dirancang oleh bandar judol untuk mengikat emosi para pemainnya.

Menurutnya, tidak ada istilah hari sial atau hari beruntung dalam sistem judol.

“Penyakitnya orang bermain judol adalah hanya ingat saat menang, tetapi lupa saat kalah. Bandar sengaja melebih-lebihkan persentase kemenangan dan memberi kesan seolah-olah tebakan itu sebuah keahlian. Padahal itu manipulasi sistem,” ujar Rio.

Jebakan Psikologis

Rio membeberkan beberapa jebakan psikologis yang kerap dialami korban, seperti sindrom “dikit lagi jackpot” hingga tindakan melipatgandakan taruhan demi menutup kerugian (chasing losses).

“Inilah yang membuat para pemain sulit berhenti hingga akhirnya mengalami kerugian finansial yang parah,” kata dia.

Menjawab tantangan maraknya informasi menyesatkan dan jebakan digital tersebut, DPAD DIY menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas literasi masyarakat sebagai benteng pertahanan utama.

Pustakawan Ahli Madya DPAD DIY, Hadi Pranoto, menekankan bahwa kemampuan literasi tidak sekadar mampu membaca teks, tetapi juga membangun pemahaman kritis terhadap informasi yang diterima.

“Inilah masalah kita bersama. Minat baca, daya baca, dan kemampuan membaca masyarakat masih perlu terus ditingkatkan. Kita sering menerima pesan atau informasi panjang tetapi tidak dibaca secara utuh. Melalui pembagian buku dan sosialisasi ini, kami ingin mendorong masyarakat untuk meningkatkan daya baca agar mampu mencerna serta menyaring informasi dengan bijak,” ucap Hadi. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online