Keluarga dan Lingkungan Sosial Bisa Pengaruhi Stunting
Penanganan stunting perlu melibatkan berbagai sektor, mulai dari kesehatan, kemiskinan, pola asuh, hingga lingkungan. DPAD DIY dan DPRD DIY mendorong peningkata
Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai (berdiri) menyampaikan materinya dalam bedah buku yang digelar di di Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman, Selasa (13/10)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani
SLEMAN—Penanganan tengkes (stunting) pada anak tidak cukup hanya mengandalkan intervensi kesehatan, tetapi juga perlu memperhatikan faktor kemiskinan, sosial budaya, pola pengasuhan, dan kondisi lingkungan. Peningkatan literasi masyarakat dinilai menjadi salah satu upaya untuk mendorong pencegahan dan penanganan stunting yang lebih tepat sasaran.
Anggota DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, menuturkan kemiskinan menjadi salah satu faktor yang kerap berkaitan dengan persoalan stunting. Namun, menurut dia, terdapat faktor lain yang turut memengaruhi, termasuk kondisi sosial budaya dan pola pengasuhan keluarga.
Dia mendorong masyarakat meningkatkan literasi agar memiliki pemahaman lebih luas mengenai penyebab stunting dan langkah penanganannya.
“Masalah stunting sering disebabkan tingkat kemiskinan yang tinggi. Tetapi, faktor sosial budaya dan pola pengasuhan juga perlu diperhatikan,” ujarnya dalam bedah buku berjudul Stunting pada Anak: Pendekatan Keperawatan Berbasis Keluarga dan Komunitas yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman, Selasa (13/10/2026).
Anton menjelaskan penanganan stunting perlu didukung penilaian berbagai indikator berdasarkan wilayah kapanewon atau kemantren di DIY. Indikator tersebut meliputi kesehatan masyarakat dan gizi, pelayanan dasar dan lintas sektor, perilaku sosial keluarga, kondisi sosial budaya, serta faktor risiko lingkungan berbasis spasial wilayah.
Menurut Anton, kondisi lingkungan permukiman juga perlu menjadi perhatian, terutama terkait sanitasi dan akses air bersih. Faktor-faktor tersebut berpotensi meningkatkan risiko stunting sehingga membutuhkan penanganan lintas sektor.
Sementara itu, praktisi literasi, Arif Priyosusanto, menekankan pentingnya kepedulian berbagai pihak terhadap persoalan stunting. Menurutnya, penanganan tengkes tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga masyarakat.
“Stunting perlu ditangani semua pihak, termasuk masyarakat sekitar,” katanya.
Dia menilai kegiatan bedah buku untuk meningkatkan literasi masyarakat dapat mendorong peningkatan kapasitas masyarakat dalam memahami dan menangani persoalan stunting.
Berbasis Keluarga
Redaktur Umi Latifah menuturkan buku Stunting pada Anak: Pendekatan Keperawatan Berbasis Keluarga dan Komunitas menghubungkan teori, kebijakan kesehatan, dan praktik keperawatan agar dapat diterapkan dalam pelayanan sehari-hari.
Pendekatan berbasis keluarga dan komunitas menjadi penekanan utama dalam buku tersebut dengan mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, serta sumber daya lokal.
Buku ini ditujukan bagi mahasiswa keperawatan, praktisi, dan tenaga kesehatan komunitas untuk mendukung pelaksanaan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Buku tersebut juga menjadi panduan praktis bagi perawat dalam menghadapi persoalan tengkes, mulai dari memahami proses terjadinya stunting dan faktor-faktor yang memengaruhinya hingga peran tenaga keperawatan dalam pencegahan dan penanganannya.
Pustakawan Ahli Pertama DPAD DIY, Fajar Nugraha, turut mendorong masyarakat membangun kebiasaan membaca untuk meningkatkan literasi.
“Kebiasaan membaca dapat membantu masyarakat memperoleh pengetahuan dan memahami berbagai persoalan, termasuk kesehatan anak,” katanya.
Menurutnya, melalui peningkatan literasi, masyarakat diharapkan mampu mengakses informasi yang bermanfaat dan berpartisipasi aktif dalam upaya pencegahan stunting. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penanganan stunting perlu melibatkan berbagai sektor, mulai dari kesehatan, kemiskinan, pola asuh, hingga lingkungan. DPAD DIY dan DPRD DIY mendorong peningkata
Film Whalefall tayang di CGV Indonesia mulai 14 Oktober 2026. Simak sinopsis, daftar pemain, dan pengalaman menonton di studio 4D.
Warga Bantul kini bisa mengurus KTP, KK, akta kelahiran, dan dokumen kependudukan lainnya secara daring melalui Dukcapil Smart New Generation secara gratis.
Kepala BRAN Dedi Prasetyo menegaskan kolaborasi dengan ATR/BPN untuk menyelesaikan konflik agraria dan menata data pertanahan nasional.
Epson Indonesia menghadirkan promo anniversary projector EB Series dengan reward e-wallet hingga Rp150.000 dan cashback hingga Rp300.000 untuk be
BMKG memprakirakan cuaca sebagian besar Indonesia cerah pada Rabu, 14 Oktober 2026. Suhu tertinggi di Jogja dan Sleman mencapai 36 derajat Celsius.