Mahasiswa Asing Terpukau dengan Naskah Kuno Jogja

Media Digital
Media Digital Senin, 26 Oktober 2026 09:27 WIB
Mahasiswa Asing Terpukau dengan Naskah Kuno Jogja

Sejumlah mahasiswa asing Universitas Gadjah Mada (UGM) melihat langsung koleksi serta perawatan naskah kuno di Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY, Jumat (23/10/2026). - Harian Jogja/ Ariq Fajar Hidayat

Harianjogja.com, JOGJA—Koleksi manuskrip berusia ratusan tahun menarik perhatian mahasiswa asing Universitas Gadjah Mada (UGM) saat mengunjungi Balai Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Jumat (23/10/2026). Salah satu koleksi yang membuat mereka penasaran adalah naskah beraksara Jawa, tetapi menggunakan bahasa Belanda.

Peter, mahasiswa UGM asal Inggris, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda ketika melihat langsung catatan sejarah tersebut. Baginya, manuskrip kuno itu menghadirkan kesempatan untuk mengenal perjalanan sejarah Jogja dari dekat.

"Rasanya seperti melompat langsung ke masa lalu dan melihat sejarah Yogyakarta dari dekat," kata Peter.

Perpaduan aksara Jawa dan bahasa Belanda menjadi salah satu hal yang menarik perhatiannya. Peter mengaku sempat kebingungan melihat kombinasi tersebut, tetapi justru terdorong untuk mempelajari lebih jauh koleksi naskah kuno yang tersimpan di DPAD DIY.

Koleksi Naskah Kuno Capai 13.000

Kepala Balai Layanan Perpustakaan DPAD DIY, Martono Heri Prasetyo, mengatakan instansinya menyimpan sekitar 13.000 naskah kuno. Koleksi itu memiliki beragam kombinasi aksara dan bahasa, termasuk aksara Jawa yang ditulis dalam bahasa Belanda maupun Arab.

Salah satu manuskrip yang tersimpan berasal dari 1816. Naskah tersebut menggunakan aksara Jawa dan bahasa Belanda, memperlihatkan pertemuan unsur bahasa dalam catatan sejarah masa lalu.

Menurut Martono, koleksi dengan karakteristik tersebut menghadirkan tantangan tersendiri dalam proses alih bahasa. DPAD DIY masih membutuhkan tenaga ahli yang menguasai bahasa Belanda agar isi manuskrip dapat diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan lebih mudah dipelajari masyarakat.

Ketertarikan terhadap naskah kuno juga dirasakan Sabrina, mahasiswa UGM asal Filipina dari Fakultas Ilmu Budaya. Ia mengaku tertarik melihat naskah beraksara Jawa dari masa penjajahan Belanda meskipun belum bisa membaca tulisan tersebut.

Minat Sabrina terhadap sejarah Indonesia juga berkaitan dengan budaya maritim di kawasan timur Indonesia yang memiliki kedekatan dengan Filipina.

Digitalisasi untuk Menjaga Manuskrip

Kunjungan mahasiswa asing tersebut tidak hanya memperkenalkan koleksi bersejarah, tetapi juga memberikan gambaran mengenai upaya perawatan dan pelestarian naskah kuno. Martono menjelaskan, mahasiswa mendapat pengenalan tentang perawatan buku, penanganan koleksi, hingga digitalisasi manuskrip.

Digitalisasi menjadi salah satu upaya untuk menjaga naskah tetap dapat dipelajari tanpa harus terus-menerus membuka koleksi aslinya. Martono menjelaskan, manuskrip yang terlalu sering dibolak-balik berisiko lebih cepat mengalami kerusakan.

Selain menjaga kondisi fisik koleksi, DPAD DIY juga berupaya memperluas akses masyarakat terhadap isi naskah kuno. Upaya tersebut dilakukan melalui alih aksara, alih bahasa, dan penyajian dalam bentuk komik.

Dengan cara tersebut, naskah kuno tidak hanya dipertahankan sebagai benda bersejarah, tetapi juga diupayakan agar isi dan pengetahuannya dapat dipahami oleh masyarakat yang lebih luas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ariq Fajar Hidayat
Ariq Fajar Hidayat Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online