Satpol PP Bantul Bongkar Tempat Produksi Miras Oplosan
Satpol PP Bantul berhasil mengungkap lokasi yang diduga menjadi tempat produksi miras oplosan di Kalurahan Sabdodadi
Pengalaman masuk instalasi gawat darurat (IGD) tanpa harus menunggu lama menjadi kesan paling membekas bagi Yuni Kuswanti saat mendampingi suaminya menjalani rawat inap di Rumah Sakit DKT Dr. Soetarto, Kotabaru, Kota Jogja.
JOGJA - Pengalaman masuk instalasi gawat darurat (IGD) tanpa harus menunggu lama menjadi kesan paling membekas bagi Yuni Kuswanti saat mendampingi suaminya menjalani rawat inap di Rumah Sakit DKT Dr. Soetarto, Kotabaru, Kota Jogja.
Yuni, warga Kelurahan Baciro, Gondokusuman, mengaku langsung mendapat penanganan begitu tiba di rumah sakit, ketika menggunakan BPJS Kesehatan kelas 2.
“Langsung. Kita datang langsung ada pelayanan,” ujar Yuni saat mendampingi suaminya, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan, proses administrasi hingga penanganan medis berjalan cepat tanpa kendala. Menurutnya, pelayanan yang diberikan rumah sakit tidak membedakan antara pasien BPJS dan pasien umum.
“Enggak pernah dibedakan. Selama ini walaupun dulu juga pernah di kelas 3, sama aja sama pelayanan umum. Tetap maksimal pelayanannya,” katanya.
Yuni telah menggunakan BPJS Kesehatan sejak 2016 atau sejak awal menikah. Selama itu, ia menilai pelayanan fasilitas kesehatan di Jogja, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, tergolong baik dan ramah.
“Kalau di Jogja alhamdulillah pelayanan dari Puskesmas baik, pelayanannya bagus. Untuk perawat-perawatnya juga bagus, baik, ramah-ramah,” tandasnya.
Selain pelayanan medis, kemudahan administrasi juga dirasakan Yuni. Ia menyebut tidak mengalami kesulitan saat mengurus proses perawatan suaminya di rumah sakit.
“Mudah sih Mas, enggak sulit. Kayak kemarin ke IGD langsung dilayani cepat, langsung dikasih perawatan juga enggak nunggu lama,” katanya.
Dari sisi pembiayaan, Yuni mengakui BPJS Kesehatan sangat membantu. Seluruh biaya pengobatan hingga obat-obatan ditanggung, tanpa tambahan biaya.
“Enggak, enggak ada namanya biaya tambahan. Obat semua gratis,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa BPJS Kesehatan, biaya pengobatan bisa jauh lebih besar dan memberatkan keluarga. Namun, dengan adanya BPJS, ia dan keluarga hanya fokus dengan kesembuhan.
Ke depan, Yuni berharap kualitas pelayanan BPJS Kesehatan dan RS DKT Dr. Soetarto dapat terus ditingkatkan meski sudah dinilai baik.
“Untuk harapan saya sih untuk BPJS Kesehatan semakin bagus, semakin baik. Untuk pelayanan DKT juga semakin bagus, semakin baik. Pelayanannya sudah bagus, sudah ramah-ramah pelayanannya,” harapnya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satpol PP Bantul berhasil mengungkap lokasi yang diduga menjadi tempat produksi miras oplosan di Kalurahan Sabdodadi
Presiden Prabowo meminta perguruan tinggi menyiapkan SDM dan riset untuk mendukung pengembangan B50, B60, dan etanol guna memperkuat ketahanan energi.
Pemkab Bantul menargetkan 27.500 dosis vaksin PMK tuntas pada 2026 untuk menekan penyebaran penyakit pada ternak di seluruh kapanewon.
SMPN 1 Turi menyediakan loker HP di setiap kelas. Kebijakan ini membuat siswa lebih fokus belajar dan aktif bersosialisasi saat istirahat.
Mendikti Saintek Brian Yuliarto menegaskan pembentukan Universitas Republik Indonesia tidak mengubah fungsi Kemendikti Saintek.
Pemerintah menegaskan tidak ada rencana melarang seluruh vape. Kajian hanya difokuskan pada penyalahgunaan rokok elektrik untuk narkotika.