Pesan Sultan HB X: Kemerdekaan Tak Cukup dengan Kedaulatan
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak cukup dimaknai sebagai kedaulatan semata
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan bendera Merah Putih dalam upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung Agung Yogyakarta, Senin (17/8)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani
JOGJA - Tugas anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) DIY tidak berhenti setelah menjalankan tugas mengibarkan bendera Merah Putih. Mereka diharapkan menjadi teladan bagi generasi muda sekaligus terus menumbuhkan semangat nasionalisme, cinta tanah air, dan persatuan di tengah masyarakat.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY, Lilik Andi Aryanto, mengatakan anggota Paskibraka harus mampu menjadi contoh bagi generasi muda, baik dari sisi sikap, etika maupun nasionalisme.
“Untuk anak-anak Paskibraka menjadi teladan bagi generasi muda dalam sikap, etika dan nasionalisme. Meningkatkan rasa cinta tanah air dan semangat persatuan. Setelah bertugas tetap memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat,” katanya seusai Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Kepresidenan Jogja, Senin (17/8).
Ia berharap semangat yang diperoleh selama mengikuti pembinaan Paskibraka dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan dan persatuan di DIY.
“Bangsa Indonesia semakin maju, rukun, aman, damai dan sejahtera. Masyarakat di DIY selalu guyub rukun dan kesejahteraan dapat merata,” ujarnya.
Sebelumnya, sebanyak 38 siswa-siswi telah dikukuhkan sebagai Paskibraka DIY. Mereka bertugas mengibarkan Sang Saka Merah Putih dalam Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Kepresidenan Jogja.
Para anggota Paskibraka tersebut sebelumnya menjalani pelatihan terpusat di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) DIY. Pelatihan dilakukan untuk membentuk karakter generasi muda yang berlandaskan Pancasila sekaligus memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.
Lilik mengatakan Paskibraka merupakan putra-putri terbaik bangsa yang dipersiapkan menjadi generasi penerus perjuangan sekaligus calon pemimpin bangsa.
“Pelatihan tersebut bertujuan membentuk generasi penerus perjuangan bangsa dan calon pemimpin bangsa yang memiliki karakteristik jiwa dan semangat Pancasila dan UUD 1945,” katanya.
Selain membentuk karakter kepemimpinan, menurutnya, pembinaan tersebut juga ditujukan untuk menanamkan dan menumbuhkan semangat patriotisme serta nasionalisme. Para anggota Paskibraka diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam melestarikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, pengalaman selama menjadi Paskibraka diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan upacara. Setelah kembali ke lingkungan sekolah maupun masyarakat, mereka diharapkan tetap membawa nilai kedisiplinan, persatuan, nasionalisme, dan kepedulian sosial yang diperoleh selama menjalani pembinaan.
Sementara itu, suasana Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini berlangsung meriah. Sejumlah pejabat dan tamu undangan hadir mengenakan pakaian resmi di halaman Gedung Agung Jogja.
Di luar kompleks Gedung Agung, ribuan masyarakat tampak memadati area untuk menyaksikan jalannya upacara melalui layar monitor yang disiarkan ke arah luar.
Semarak peringatan kemerdekaan juga terlihat dari busana yang dikenakan warga. Sejumlah masyarakat datang mengenakan pakaian adat, menambah suasana kebangsaan dalam perayaan HUT RI di Jogja. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak cukup dimaknai sebagai kedaulatan semata
Korban gempa NTT M7,7 bertambah menjadi 68 orang. BNPB juga mencatat 213 orang luka-luka hingga Senin, 17 Agustus 2026.
Bagi Astra, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini yang mengusung tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” menjadi pengingat
Gempa NTT berdampak pada sejumlah infrastruktur, termasuk Pulau Rinca dan Padar. Pemerintah masih mendata kerusakan dan nilai kerugian.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak cukup dimaknai sebagai kedaulatan semata
DPRD Kota Jogja menyoroti warga desil 6 yang sulit mengakses bansos dan mendorong Pemkot Jogja mempertimbangkan kondisi ekonomi riil.