Wakil Ketua DPRD DIY Soroti Literasi di Tengah Banjir Informasi

Media Digital
Media Digital Jum'at, 02 Oktober 2026 06:32 WIB
Wakil Ketua DPRD DIY Soroti Literasi di Tengah Banjir Informasi

Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman (tengah) memaparkan materinya dalam bedah buku bertajuk Pariwisata Kontemporer Indonesia di Balai Rukun Kampung Bumijo, Kemantren Jetis, Kota Jogja,Kamis (1/10)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani

JOGJA – Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku bertajuk Pariwisata Kontemporer Indonesia di Balai Rukun Kampung Bumijo, Kemantren Jetis, Kota Jogja, Kamis (1/10).

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membahas perkembangan pariwisata sekaligus pentingnya literasi masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital.

Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman mengatakan kebiasaan membaca dapat melatih masyarakat berpikir secara sistematis dan kritis. Menurutnya, membaca buku tidak bisa dilakukan secara instan karena pembaca perlu mengikuti alur pemikiran dan memahami referensi yang digunakan penulis.

“Dengan membaca, kita terbiasa berpikir kritis, dari depan ke belakang. Itu juga bisa memengaruhi kehidupan kita sehari-hari dalam mengambil keputusan,” ujarnya.

Dia menilai kemampuan literasi menjadi semakin penting karena masyarakat saat ini menghadapi banjir informasi melalui media digital. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus mencari informasi melalui buku, koran, majalah, hingga kliping, masyarakat saat ini dapat memperoleh informasi hanya melalui perangkat digital.

Menurut Budi, kemudahan memperoleh informasi tersebut juga menghadirkan tantangan. Masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

“Kalau kita tidak terbiasa untuk mengecek ini benar atau tidak, dasarnya apa, apa pun yang masuk bisa kita makan,” katanya.

Dia mencontohkan informasi yang kembali disebarkan meski merupakan peristiwa lama. Informasi tersebut, menurutnya, dapat memunculkan kepanikan apabila masyarakat tidak melakukan pemeriksaan terhadap konteks dan kebenarannya.

“Semua orang sekarang bisa menulis, semua orang bisa membuat berita. Karena itu kita harus mempunyai literasi yang kuat dan bisa mempertanggungjawabkan informasi yang kita terima,” ujarnya.

Perkembangan Pariwisata

Sementara itu, penulis buku Pariwisata Kontemporer Indonesia, Sinomba Rambe, mengatakan perkembangan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan jumlah wisatawan maupun destinasi. Perubahan juga terjadi pada cara pemangku kepentingan mengelola pariwisata serta gaya dan perilaku wisatawan.

“Mengenal dan memahami dinamikanya sangat membantu pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi yang tepat untuk merespons perubahan itu secara tepat,” katanya.

Dia mengatakan buku tersebut mengangkat berbagai persoalan kontemporer pariwisata Indonesia dalam menghadapi persaingan global. Salah satunya kebutuhan untuk mengenali posisi Indonesia sebagai destinasi sekaligus pemasok wisatawan.

Buku itu juga membahas sejumlah tantangan, mulai dari pengaruh kapitalisme terhadap kedaulatan nasional, kebutuhan inovasi sosial dalam menghadapi disrupsi teknologi, strategi menghadapi pasar milenial, hingga pemanfaatan riset berbasis big data.

Praktisi literasi, Andri Perdana, menambahkan digitalisasi telah mengubah industri pariwisata, termasuk dari sisi pemasaran. Bisnis, data, proses, hingga pengguna kini semakin terhubung secara daring.

Namun, dia menilai adopsi internet dan pemasaran digital masih menjadi tantangan, terutama bagi masyarakat lokal di daerah perdesaan yang memiliki keterbatasan koneksi data maupun kemampuan digital.

“Edukasi terhadap pelaku pariwisata konvensional perlu dilakukan agar mereka dapat beradaptasi dengan pemasaran digital dan tidak tertinggal dalam perkembangan industri,” katanya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga perlu diimbangi dengan pemeliharaan aspek kemanusiaan dalam aktivitas pariwisata. Interaksi wisatawan dengan manusia berpotensi semakin berkurang seiring meningkatnya penggunaan teknologi dan otomatisasi.

Sementara itu, Pustakawan Ahli Pertama DPAD DIY Erwin Novianto mendorong generasi muda untuk meningkatkan minat membaca.

“Kebiasaan membaca memberikan manfaat dalam memperluas wawasan dan memperkuat kemampuan generasi muda dalam memahami berbagai informasi,” katanya. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online