Karang Taruna Kaliagung Ubah Sisa Dapur Jadi Maggot dan Kasgot

Media Digital
Media Digital Rabu, 19 Agustus 2026 14:42 WIB
Karang Taruna Kaliagung Ubah Sisa Dapur Jadi Maggot dan Kasgot

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sanata Dharma mendampingi Karang Taruna Tunas Harapan di Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, melalui program pengabdian kepada masyarakat 2026 yang merupakan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi./ Ist

Bukan Sampah Biasa, Karang Taruna Kaliagung Ubah Sisa Dapur Jadi Maggot dan Kasgot Bernilai Jual

KULONPROGO — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Sanata Dharma mendampingi Karang Taruna Tunas Harapan di Kalurahan Kaliagung, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, melalui program pengabdian kepada masyarakat 2026 yang merupakan hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Program tersebut berfokus pada pengembangan pengelolaan sampah organik rumah tangga agar dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Pengolahan dilakukan mulai dari budi daya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF), pengeringan maggot, hingga pemanfaatan limbah sisa budi daya atau kasgot sebagai pupuk organik.

Kalurahan Kaliagung dikenal sebagai kawasan permukiman dengan kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang cukup tinggi. Kondisi tersebut turut mendorong meningkatnya volume sampah rumah tangga, terutama sampah organik dari sisa makanan, sayur-mayur, dan limbah dapur.

Karang Taruna Tunas Harapan sebenarnya telah berinisiatif memanfaatkan sampah organik untuk budi daya maggot. Namun, skala produksinya masih terbatas. Salah satu kendala utamanya adalah minimnya teknologi tepat guna.

Saat ini, kelompok tersebut baru memiliki satu mesin penggiling atau pembubur sampah hasil modifikasi dari mesin lain sehingga kapasitas pengolahan belum maksimal. Maggot yang dihasilkan juga selama ini dijual dalam kondisi hidup dengan harga relatif rendah, padahal berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi jika diolah menjadi maggot kering yang lebih tahan lama.

Persoalan serupa ditemui pada kasgot, yakni residu sisa budi daya maggot yang sebenarnya berpotensi dikembangkan menjadi pupuk organik. Produk tersebut belum memiliki kemasan maupun label yang layak sehingga sulit bersaing di pasaran.

Menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian yang diketuai Maria Angela Diva Vilaningrum Wadyatenti, M.Sc., bersama anggota Patrick Vivid Adinata, M.Si., dan Ika Yuli Listyarini, M.Pd., merancang program pendampingan yang menyasar empat aspek, yakni produksi, manajemen usaha, pemasaran, serta penguatan kelembagaan dan jiwa kewirausahaan generasi muda di Karang Taruna.

Selama ini, maggot BSF dijual dalam kondisi hidup dengan harga relatif rendah. Padahal, melalui pengolahan lebih lanjut menggunakan mesin pengering atau oven berbahan bakar gas, maggot dapat diubah menjadi maggot kering yang memiliki daya simpan lebih lama sekaligus nilai jual lebih tinggi sebagai pakan ternak maupun ikan.

Di sisi lain, proses budi daya maggot menghasilkan residu berupa kasgot atau bekas media dan kotoran maggot. Residu tersebut kaya akan unsur hara dan berpotensi diolah menjadi pupuk organik.

Pemanfaatan kasgot selama ini masih terkendala kemasan dan label sebagai identitas produk. Melalui pendampingan tersebut, kasgot diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk pupuk organik yang lebih menarik dan memiliki daya saing di pasaran.

Program ini merupakan wujud komitmen Universitas Sanata Dharma dalam mendampingi desa wisata dan kampung wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut juga sejalan dengan kerja sama yang telah terjalin antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sanata Dharma dengan Kalurahan Kaliagung.

Melalui program ini, pengelolaan sampah organik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan diharapkan dapat bertransformasi menjadi sumber pendapatan baru bagi warga. Selain mengurangi persoalan sampah rumah tangga, pengembangan maggot dan kasgot diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi Karang Taruna Tunas Harapan.(Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online