Hotel Tentrem Yogyakarta Hadirkan Tujuh Program Budaya Nusantara
Hotel Tentrem Yogyakarta menggelar Tentrem Cultural Week 2026 pada 24–28 November dengan menghadirkan tujuh program yang mengangkat kekayaan kuliner, seni, dan
CEO Environesia, Saprian atau juga dikenal dengan nama Bang Sap./ Harian Jogja
JOGJA - Kepedulian terhadap lingkungan bisa menjadi fondasi bisnis sekaligus jalan untuk menciptakan perubahan. Dari gagasan itu, pendiri sekaligus CEO Environesia, Saprian atau juga dikenal dengan nama Bang Sap, membangun perusahaan jasa lingkungan yang kini memiliki sekitar 200 karyawan dan menangani proyek di 38 provinsi. Kepada Pemimpin Redaksi Harian Jogja Anton Wahyu Prihartono, ia berbagi cerita tentang perjalanan membangun bisnis dari modal kepercayaan, strategi bertahan dan berkembang, hingga tantangan penerapan prinsip ESG dan pengelolaan sampah di Indonesia.
Apa yang melatarbelakangi berdirinya Environesia?
Environesia berangkat dari kekhawatiran saya terhadap isu lingkungan sejak masih kuliah S1. Saya berpikir bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak berbuat lebih. Dari situ, saya mulai memikirkan bagaimana membangun sesuatu di bidang lingkungan. Nama Environesia bahkan sudah saya gunakan sejak semester empat, meskipun saat itu saya belum tahu bisnis ini akan berkembang menjadi apa.
Bagaimana perjalanan awal membangun Environesia?
Pada 2016, setelah menyelesaikan S2 Magister Pengelolaan Lingkungan di UGM, saya memberanikan diri mendirikan PT Environesia Global Saraya. Awalnya, saya tidak mengandalkan modal uang, melainkan kepercayaan atau social currency. Saya mengajak beberapa adik tingkat untuk bergabung sambil kuliah. Mereka mendapatkan kesempatan belajar dan terlibat dalam proyek, meskipun kemampuan perusahaan saat itu masih terbatas.
Apa saja bidang usaha Environesia saat ini?
Environesia merupakan perusahaan induk yang bergerak di bidang lingkungan. Kami memiliki bisnis konsultasi lingkungan, laboratorium lingkungan untuk menguji kualitas air, limbah, udara, dan berbagai parameter pencemaran, serta lembaga pelatihan dan sertifikasi. Laboratorium kami memiliki sekitar 350 parameter terakreditasi. Saat ini, perusahaan memiliki sekitar 200 karyawan dan telah menangani proyek di 38 provinsi.
Bagaimana Environesia menghadapi pandemi Covid-19?
Ketika pandemi, banyak pelaku usaha menahan investasi dan tidak berani mengambil langkah besar. Kami justru tetap mengikuti tender di berbagai provinsi dengan memperhitungkan risiko. Saya berpikir, jika gagal, risiko utamanya adalah biaya transportasi, akomodasi, dan operasional. Namun, jika berhasil, kami bisa mendapatkan omzet sekaligus portofolio baru. Strategi itu membawa kami masuk ke sekitar 28 provinsi baru.
Apa kunci utama mengembangkan bisnis hingga bertahan selama 10 tahun?
Kuncinya adalah fokus, kompetensi, momentum, kepercayaan, dan pelayanan. Dalam bisnis jasa, kepercayaan sangat penting. Kami harus mampu menangani keluhan, menjaga hubungan dengan klien, serta membangun kerja sama jangka panjang. Setelah mendapatkan kepercayaan, pemeliharaan hubungan, kolaborasi, dan pesanan berulang membantu perusahaan berkembang.
Bagaimana cara menarik minat anak muda terhadap isu lingkungan?
Tantangannya adalah menyampaikan isu lingkungan yang berat dengan bahasa yang mudah diterima. Isu mikroplastik, misalnya, sering kali berkaitan dengan ancaman kesehatan dan kerusakan lingkungan yang membuat orang enggan menyimak. Karena itu, saya mengembangkan konsep disease green business untuk menyampaikan isu lingkungan melalui pendekatan yang lebih menarik bagi anak muda. Konten tersebut kemudian berkembang di Instagram, TikTok, dan YouTube.
Apakah konten lingkungan tersebut berdampak pada perilaku anak muda?
Saya yakin ada dampaknya. Beberapa anak muda mengenal saya melalui konten dan mengundang saya untuk berbagi di kampus. Sampai awal November, jadwal saya untuk berbagi cerita di kampus-kampus sudah penuh. Bagi saya, kegiatan tersebut bukan semata-mata soal keuntungan bisnis, tetapi juga upaya menyebarkan pesan positif dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Bagaimana penerapan prinsip ESG di Indonesia saat ini?
Menurut saya, penerapan environmental, social, and governance [ESG] di Indonesia masih perlu diperkuat. Pelaporan keberlanjutan lebih banyak dilakukan perusahaan tertentu, terutama yang membutuhkan pembiayaan atau pertanggungjawaban kepada pemegang saham. Padahal, pelaksanaan kewajiban lingkungan dan pengawasannya juga masih menjadi tantangan. Dokumen lingkungan seperti amdal [analisis mengenai dampak lingkungan] perlu diikuti pelaksanaan dan pemantauan yang konsisten, dengan dukungan anggaran pengawasan yang memadai.
Apakah perusahaan bersedia berkontribusi langsung terhadap pelestarian lingkungan?
Saya yakin perusahaan bersedia selama kebijakan dan regulasinya jelas serta diterapkan secara konsisten. Misalnya, perusahaan dapat diwajibkan berkontribusi pada penanaman pohon atau pemulihan lingkungan. Dunia usaha pada dasarnya ingin beroperasi dengan aman. Pemerintah, masyarakat, dan perusahaan perlu berjalan bersama agar tanggung jawab lingkungan menjadi bagian dari kegiatan usaha.
Bagaimana pandangan Anda tentang solusi pengelolaan sampah di Jogja?
Pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy (WTE) merupakan salah satu solusi realistis untuk menangani timbunan sampah saat ini. Namun, kita perlu berhati-hati agar fasilitas tersebut tidak justru menciptakan ketergantungan terhadap pasokan sampah dalam jumlah besar. Dalam jangka panjang, pengurangan sampah dari sumbernya dan pemilahan tetap harus diperkuat.
Bagaimana pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berjalan berkelanjutan?
Pemerintah daerah perlu mendukung masyarakat, sementara pengelola sampah harus saling terhubung. Saat ini, banyak inisiatif berjalan sendiri-sendiri sehingga kesulitan mencari pasar untuk produk daur ulang. Bisnis berbasis keberlanjutan juga harus dikelola secara profesional, termasuk dalam pemasaran, branding, pengemasan, dan pengembangan produk. Jika tidak menghasilkan keuntungan yang cukup, kegiatan tersebut sulit bertahan dalam jangka panjang.
Apa pesan Anda bagi generasi muda yang ingin membangun bisnis sekaligus memberi dampak bagi lingkungan?
Anak muda perlu fokus dan tidak mudah terdistraksi oleh banyak peluang yang terlihat menarik. Kita harus berani bekerja keras, menghitung risiko, dan memanfaatkan momentum. Setiap kondisi yang tidak ideal bisa menjadi kesempatan untuk berkembang, selama kita mempersiapkan diri dan memiliki strategi yang jelas.(Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hotel Tentrem Yogyakarta menggelar Tentrem Cultural Week 2026 pada 24–28 November dengan menghadirkan tujuh program yang mengangkat kekayaan kuliner, seni, dan
Samsung mulai mendistribusikan One UI 9 berbasis Android 17. Simak daftar HP Galaxy penerima, fitur AI dan keamanan baru, serta cara mengecek update.
Simak syarat dan cara membuat kartu kuning AK-1 melalui SIAPkerja Kemenaker, termasuk pendaftaran akun, penerbitan SIAPkerja-ID, dan akses Karirhub.
Kimi Antonelli hanya butuh dua poin untuk mengunci gelar F1 2026, tetapi pebalap Mercedes itu mengincar kemenangan di GP Meksiko.
DPRD Sleman meminta BPBD memastikan sirene EWS Merapi berfungsi serta mengecek jalur evakuasi dan kesiapan logistik pengungsian.
Google menghadirkan fitur baru Gemini untuk membuat, melihat pratinjau, dan mengedit PDF, dokumen, presentasi, spreadsheet, hingga kode langsung di percakapan.