IN MEDIO: Ruang Perjumpaan Inklusif Love ARTJOG di Bandung

Media Digital
Media Digital Rabu, 04 November 2026 15:42 WIB
IN MEDIO: Ruang Perjumpaan Inklusif Love ARTJOG di Bandung

Ruang Perjumpaan Inklusif Love ARTJOG di Bandung./ Ist

BANDUNG—Menguatkan komitmen dalam memperluas wacana dan praktik seni yang terbuka, ARTJOG melalui salah satu programnya, Love ARTJOG, bekerja sama dengan Tab Space dan dotHub Space, menyelenggarakan pameran bertajuk IN MEDIO di Dia.Lo.Gue @dotHub Space, Bandung. Pameran yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 29 November 2026 ini merupakan muara dari rangkaian residensi seniman yang sebelumnya dilaksanakan di Yogyakarta.

Program Love ARTJOG bermula dari pembentukan Pusat Layanan Disabilitas pada 2023 sebagai salah satu perwujudan visi inklusivitas yang diusung ARTJOG. Pada awalnya, peran pusat layanan tersebut berfokus pada penyediaan fasilitas bagi pengunjung penyandang disabilitas selama penyelenggaraan ARTJOG. Seiring waktu, platform ini berkembang menjadi ruang untuk mendorong kesadaran publik sekaligus memperluas wacana tentang seni dan disabilitas. Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai kegiatan, salah satunya program residensi seni.

Love  ARTJOG telah dua kali menyelenggarakan agenda residensi seni. Tahun ini, program tersebut memperluas jaringan kolaborasinya melalui kerja sama dengan Tab Space, sebuah social enterprise yang memfasilitasi seniman disabilitas sebagai praktisi profesional, serta dotHub Space, ruang kolaborasi inklusif yang dirancang untuk mempertemukan seni, desain, dan budaya.

Dalam agenda residensi kali ini, Love ARTJOG menggandeng Ace House Collective, kolektif seni independen asal Yogyakarta, sebagai fasilitator. Lima seniman yang terlibat dalam proses kreatif tersebut adalah Clara Vania (Yogyakarta), Dewi Nurlaela (Jakarta), Ilham Sadikin (Bandung), Septa Anggitayuda (Bogor), dan Zakka Nurul Giffani Hadi (Yogyakarta).

Selama sepuluh hari, kelima seniman dipertemukan dengan seniman, kolektif seni, dan ruang-ruang seni independen di Yogyakarta. Proses ini bertujuan mendorong pertukaran pengetahuan sekaligus membuka ruang eksperimentasi artistik.

Dalam teks pamerannya, Ace House Collective menjelaskan bahwa residensi merupakan ruang bagi seniman untuk memperluas pengamatan, menguji pendekatan, dan mendalami praktik berkarya melalui perjumpaan dengan lingkungan baru. Dalam konteks ini, Yogyakarta menjadi titik berangkat untuk meninjau kembali gagasan, mengeksplorasi medium, serta membuka berbagai kemungkinan artistik baru. Perjalanan melintasi batas-batas material maupun gagasan tersebut kemudian termanifestasi dalam karya-karya yang dihasilkan para seniman.

Perjumpaan tersebut melahirkan beragam respons artistik. Ilham Sadikin, misalnya, merakit ulang fragmen arsitektur, transportasi, dan tradisi Yogyakarta menjadi figur robotik mekanis. Pendekatan ini memiliki keterkaitan dengan eksplorasi Zakka Nurul Giffani Hadi yang menghadirkan wacana kesetaraan antara komunitas Tuli dan Dengar melalui simbolisme robot serta keindahan metamorfosis kupu-kupu.

Sementara itu, Clara Vania menghadirkan narasi tentang ruang aman dan intim melalui eksplorasi fotografi yang memadukan bahasa isyarat dengan teknik melukis untuk merekonstruksi makna rumah. Septa Anggitayuda mengabadikan ingatan emosional tentang hubungan bapak dan anak melalui teknik cyanotype, sebelum mengembangkan bahasa visualnya ke dalam mural sepanjang enam meter.

Adapun Dewi Nurlaela mempertemukan kolase fisik dengan citra digital. Melalui praktik tersebut, ia mengeksplorasi relasi antara tubuh dan pikiran di tengah berbagai kemungkinan yang ditawarkan teknologi.

Melalui rangkaian proses tersebut, pameran IN MEDIO memosisikan residensi bukan sekadar sebagai proses penciptaan karya, melainkan juga sebagai sarana distribusi pengetahuan yang menempatkan praktisi disabilitas pada posisi setara. Ruang presentasi pameran pun dirancang secara inklusif agar dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

Penyelenggaraan pameran di Bandung ini menjadi salah satu upaya ARTJOG dalam membangun ekosistem seni yang inklusif sekaligus memperluas jejaring kolaborasinya di luar Yogyakarta. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online