Budaya Scroll Media Sosial Bisa Gerus Daya Analitik Anak

Media Digital
Media Digital Sabtu, 30 Mei 2026 06:42 WIB
Budaya Scroll Media Sosial Bisa Gerus Daya Analitik Anak

Peserta bedah buku sedang mendengarkan pemaparan materi tentang pengasuhan anak di Joglo Surya Atmaja, Sidorejo, Godean, Sleman, Jumat (29/5/2026). Harian Jogja/ Andreas Yuda Pramono

SLEMAN - Derasnya arus media sosial dan konsumsi video pendek dinilai mulai memengaruhi kemampuan membaca serta daya analitik anak-anak dan remaja. Di tengah situasi tersebut, orang tua dinilai memegang peran penting dalam membangun budaya literasi di lingkungan keluarga.

Hal itu menjadi topik pembahasan dalam kegiatan bedah buku bertajuk Alhamdulillah, Terima Kasih Anakku! yang digelar di Joglo Surya Atmaja, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Godean, Sleman, Jumat (29/5). Buku tersebut membahas pola pengasuhan anak di era digital.

Anggota Komisi A DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan, mengatakan tema pengasuhan anak dipilih karena masyarakat saat ini tengah menghadapi tantangan baru akibat dominasi penggunaan gadget dan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, orang tua perlu memiliki panduan yang tepat dalam mendidik anak agar tidak sepenuhnya bergantung pada informasi instan dari media sosial.

“Orang yang gemar menonton video pendek dengan orang yang gemar membaca buku pasti kemampuan analitiknya berbeda,” kata Sofyan, Jumat (29/5).

Dia menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi informasi singkat melalui media sosial secara perlahan membuat kemampuan membaca masyarakat menurun. Informasi yang diterima terus-menerus dalam bentuk potongan pendek dinilai membuat kemampuan berpikir analitis menjadi berkurang.

Karena itu, DPRD DIY bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY menggelar bedah buku sebagai langkah preventif untuk meningkatkan literasi masyarakat.

Sofyan menegaskan kegiatan tersebut tidak dilakukan semata-mata sebagai respons atas suatu kasus, melainkan untuk membangun kesadaran masyarakat sejak dini agar persoalan sosial dapat diminimalkan. Menurutnya, penguatan literasi perlu dilakukan hingga tingkat desa dan padukuhan.

Selain menyasar masyarakat umum, kegiatan literasi juga dilakukan di sekolah-sekolah dengan segmen peserta yang berbeda. Edukasi mengenai pola asuh dan literasi dinilai perlu diperluas karena generasi muda saat ini sangat dekat dengan budaya konsumsi konten digital.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY, Zulfa Kurniawan, menilai keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun budaya membaca anak. Dia menyebut peran ibu sangat penting dalam membentuk kebiasaan literasi sejak usia dini.

“Ibu adalah perpustakaan pertama bagi anak,” kata Zulfa.

Menurut Zulfa, media sosial hanya menyajikan informasi singkat dan terpotong sehingga tidak cukup untuk membangun pemahaman yang mendalam. Buku tetap menjadi sumber pengetahuan yang lebih lengkap dan mampu meningkatkan kemampuan analitik pembacanya.

Untuk itu, dia mendorong agar fasilitas bacaan yang praktis dan implementatif dihadirkan di ruang-ruang publik masyarakat, termasuk kantor kalurahan dan rumah-rumah di padukuhan.

Inspirasi Orang Tua

Praktisi pengasuhan anak, Asfiyah, menilai pendidikan anak merupakan proses panjang yang terus dipelajari orang tua sejak anak masih dalam kandungan hingga dewasa. Menurut dia, setiap tahap perkembangan anak menghadirkan tantangan dan proses belajar yang berbeda.

Buku Alhamdulillah, Terima Kasih Anakku! dinilai dapat menginspirasi orang tua dalam membangun pola komunikasi yang sehat dengan anak.

“Di sini pentingnya evaluasi diri bagi orang tua dalam proses pengasuhan. Orang tua tidak selalu menjadi pihak yang paling benar dan perlu membuka ruang komunikasi dengan anak agar hubungan dalam keluarga lebih harmonis,” ujarnya. (ADV)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online