Lewat Buku, Potensi Lokal Didorong Jadi Kekuatan Ekonomi

Media Digital
Media Digital Kamis, 17 September 2026 06:02 WIB
Lewat Buku, Potensi Lokal Didorong Jadi Kekuatan Ekonomi

Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin (berdiri) memaparkan materinya dalam bedah buku yang digelar di SMP Baitul Quran Cendekia, Banjardowo, Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis, Bantul, Rabu (16/9)./ Kuki Luqman

BANTUL — Pemberdayaan masyarakat desa tidak cukup hanya mengandalkan anggaran pemerintah. Potensi yang telah dimiliki warga perlu dipetakan dan dikembangkan agar dapat menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam bedah buku Pemberdayaan Masyarakat Desa yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di SMP Baitul Quran Cendekia, Banjardowo, Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis, Bantul, Rabu (16/9).

Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, mengatakan pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan berdasarkan riset dan potensi yang ada di masing-masing wilayah. Hal itu sejalan dengan Perda DIY No. 7/2025 tentang Riset, Investasi, serta Inovasi DIY.

Menurut Amir, riset dibutuhkan agar pembangunan tidak dilakukan secara mendadak tanpa mengetahui kebutuhan dan potensi masyarakat. Pemerintah daerah perlu memiliki dasar yang jelas sebelum menentukan arah pembangunan maupun pemberdayaan.

Dalam konteks pemberdayaan desa, Amir menilai Dana Keistimewaan DIY yang nilainya lebih dari Rp1 triliun harus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat hingga tingkat kelurahan. Dia mendorong setiap wilayah memiliki program pemberdayaan yang disesuaikan dengan karakter dan potensi masing-masing.

Menurut Amir, Dana Keistimewaan selama ini telah digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat, termasuk kegiatan budaya dan tradisi. Namun, potensi ekonomi yang lebih spesifik di setiap wilayah juga perlu diperkuat agar pemberdayaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

“Contohnya di Patalan ini yang memiliki potensi pertanian. Pengembangan sekitar 400 tanaman kelapa kopyor menurut saya bisa menjadi bagian dari pengembangan ekonomi sekaligus edukasi bagi para siswa,” kata dia.

Karena itu, Amir berharap SMP Baitul Quran Cendekia tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga dapat berkembang menjadi lingkungan pendidikan yang mengenalkan kewirausahaan kepada para siswa.

Potensi pertanian dan buah-buahan di sekitar sekolah, lanjutnya, dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Berbagai Sektor

Sementara itu, praktisi Sutardi mengajak peserta melihat pemberdayaan dari berbagai sektor yang dapat dikembangkan di lingkungan masing-masing.

Dia menyebut empat pilar yang berkaitan dengan penguatan ekonomi dan kehidupan masyarakat, yakni BUM, koperasi, desa wisata, dan UMKM.

Dalam pemaparannya, Sutardi mengajak peserta mengidentifikasi potensi yang dimiliki setiap wilayah. Patalan, misalnya, dapat mengembangkan potensi yang berkaitan dengan pertanian dan peternakan.

Wilayah lain bisa memiliki kekuatan berbeda, seperti kuliner, kerajinan, maupun pariwisata.

Dia menilai sekolah juga dapat menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan sekolah dengan lingkungan sekitar bisa diarahkan untuk memperkuat ekonomi warga sekaligus memenuhi kebutuhan sekolah.

“Ini termasuk pemberdayaan. Sekolah itu termasuk pemberdayaan. Salah satunya untuk pemberdayaan ekonomi,” kata Sutardi.

Sutardi mencontohkan kebutuhan seragam sekolah yang bisa menjadi peluang usaha bagi warga sekitar. Apabila kebutuhan sekolah dapat dipenuhi oleh masyarakat setempat, perputaran ekonomi tidak harus keluar dari wilayah tersebut.

Penulis buku Pemberdayaan Masyarakat Desa, Jidda Rabbani, menegaskan buku yang ditulisnya ditujukan sebagai panduan praktis bagi desa dalam membangun kemandirian.

“Harapannya buku ini bisa menjadi acuan bagi kelurahan supaya bisa mandiri. Masyarakat harus jadi aktor perubahan untuk desa yang lebih maju,” katanya.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY, Zulfa Kurniawan, menyampaikan program bedah buku tahun ini menjangkau ratusan titik di wilayah DIY dengan beragam tema yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

“Pada tahun ini ada 200 titik untuk bedah buku dengan judul yang beraneka ragam. Saat ini sudah berjalan sekitar 160-an titik,” ujarnya.

Dia menjelaskan kegiatan bedah buku tidak hanya bertujuan meningkatkan minat baca, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memahami, menganalisis, hingga mengimplementasikan isi buku dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, pemberdayaan masyarakat dapat dikembangkan sesuai dengan potensi lokal masing-masing wilayah. Dengan demikian, hasil dari literasi tidak berhenti pada pemahaman, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi aktivitas produktif. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online