BEDAH BUKU: UMKM Didorong Naik Kelas lewat Penguatan Branding

Media Digital
Media Digital Kamis, 13 Agustus 2026 07:52 WIB
BEDAH BUKU: UMKM Didorong Naik Kelas lewat Penguatan Branding

Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani sedang menyampaikan materi dalam bedah buku u bertajuk Rahasia Sukses Branding UMKM di Balai Kalurahan Sumberadi, Mlati, Rabu (12/8)/ Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono

SLEMAN - Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat branding agar produk tidak hanya viral dalam waktu singkat, tetapi mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

Hal itu disampaikan Rahayu dalam kegiatan bedah buku bertajuk Rahasia Sukses Branding UMKM yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY. Kegiatan tersebut digelar di Balai Kalurahan Sumberadi, Mlati, Rabu (12/8).

Rahayu menilai penguatan kapasitas pelaku UMKM perlu memberikan dampak yang dapat langsung diterapkan dalam pengembangan usaha. Menurutnya, branding menjadi salah satu faktor penting agar produk UMKM lebih mudah dikenali konsumen.

Dia mencontohkan dua produk dengan kualitas yang relatif sama dapat memiliki daya tarik berbeda ketika salah satunya memiliki kemasan dan identitas produk yang lebih kuat.

“Harapan saya naik kelas UMKM di sini, Anda juga nanti bisa memanfaatkan tip-tipnya secara bijak digunakan untuk branding UMKM ben lebih menarik,” kata Rahayu, Rabu (12/8).

Dia juga mengingatkan pelaku UMKM agar tidak hanya mengejar popularitas melalui media sosial. Menurutnya, produk yang viral selama satu atau dua bulan belum menunjukkan keberhasilan branding apabila tidak diikuti strategi untuk mempertahankan konsumen dan menjaga keberlangsungan usaha.

Karena itu, Rahayu berharap kegiatan bedah buku tidak berhenti sebagai sosialisasi, tetapi mendorong peserta mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh. Dia juga meminta peserta membagikan pengetahuan tersebut kepada pelaku UMKM lain di lingkungannya.

Perwakilan penerbit sekaligus pemateri, Naufil Istikhari, menjelaskan branding tidak sekadar berkaitan dengan logo atau kemasan. Menurutnya, branding berkaitan dengan bagaimana sebuah usaha dikenal, diingat, dipercaya, hingga mampu membuat konsumen kembali membeli produk.

“Branding itu bukan sekadar kita bikin usaha, bikin konsep logonya, kemudian seperti apa kemasannya,” kata Naufil.

Dia menilai tantangan terbesar UMKM bukan sekadar membuat produk, melainkan menjaga agar produk tersebut terus diminati konsumen. Karena itu, pelaku usaha perlu membangun keunikan produk, menentukan target pasar, memanfaatkan media sosial, serta menjaga kualitas agar pelanggan kembali membeli.

Naufil menambahkan media sosial dapat membantu produk dikenal lebih luas. Namun, popularitas yang diperoleh melalui media sosial tidak otomatis membuat usaha mampu bertahan. Pelaku UMKM tetap perlu menjaga nilai, kualitas, dan identitas usaha setelah produk mendapatkan perhatian publik.

Praktisi UMKM, Afika Rahman, mengatakan branding yang kuat tidak cukup hanya membuat produk dikenal, tetapi juga harus mampu menanamkan kesan dalam ingatan konsumen. Menurutnya, hal tersebut dapat mendorong konsumen kembali membeli produk sekaligus membantu promosi melalui cerita dari mulut ke mulut.

“Pelaku UMKM perlu menentukan nilai atau pesan yang ingin disampaikan kepada konsumen agar produk memiliki identitas dan dapat diingat dalam jangka panjang,” ujarnya.

Langsung Diterapkan

Pustakawan Ahli Madya DPAD DIY, Muhammad Hadi Pranoto, mengatakan kegiatan bedah buku di tengah masyarakat merupakan bagian dari upaya meningkatkan minat baca, daya baca, dan keterampilan membaca.

Buku yang dipilih dalam kegiatan tersebut memiliki sifat praktis sehingga pengetahuan yang diperoleh peserta dapat langsung diterapkan.

“Karena bukunya buku yang praktis. Ada kemungkinan bisa dipraktikkan sendiri atau dengan pendampingan orang yang ahli,” kata Hadi.

Dia juga memiliki strategi khusus untuk mengajak masyarakat membaca. Hadi sempat mengajak peserta membaca bagian pengantar buku. Hasil pembacaan tersebut kemudian didiskusikan oleh peserta yang duduk bersebelahan.

Upaya ini menjadi contoh bahwa masyarakat perlu membiasakan diri membuka buku agar muncul rasa penasaran yang dapat memantik kebiasaan membaca.

Lebih jauh, Hadi menjelaskan DPAD DIY juga memiliki program Bank Buku untuk menerima buku dari masyarakat, menyeleksi kelayakannya, kemudian menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk untuk perpustakaan kecil atau pojok baca. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online