BEDAH BUKU: Memahami Perbedaan Konsep House dan Home

Media Digital
Media Digital Jum'at, 17 Juli 2026 07:22 WIB
BEDAH BUKU: Memahami Perbedaan  Konsep House dan Home

Anggota DPRD DIY, Basit Sugiyanto memaparkan materinya dalam bedah buku Homepower, Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup di Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (16/7)./ Harian Jogja - Catur Dwi Janati

SLEMAN - Ketahanan keluarga bukan sekadar masalah kokohnya fisik bangunan rumah (house), tetapi lebih pada soal kenyamanan dan interaksi hangat di dalamnya (home). Esensi mendasar inilah yang dikupas tuntas dalam acara bedah buku berjudul Homepower, Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup yang digelar di Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (16/7).

Bedah buku yang diinisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY tersebut sekaligus menjadi upaya mendongkrak tingkat literasi di lingkungan masyarakat.

Anggota DPRD DIY, Basit Sugiyanto, menjelaskan agenda bedah buku ini digelar untuk meningkatkan literasi masyarakat. Menurutnya, kegiatan bedah buku semacam ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Tema keluarga yang dibahas dalam bedah buku ini tergolong dekat dengan kehidupan masyarakat.

Penggunaan kata homepower dan bukan housepower, kata Basit, memiliki perbedaan. Kata home ingin mengambil pendekatan ihwal segala aktivitas di dalam rumah, bukan rumah atau house secara fisik saja.

“Kalau housepower hanya di rumah, tetapi kalau homepower lebih pada kegiatan atau activity dan bahkan tidak hanya di rumah tetapi dalam keluarga itu,” kata Basit, Kamis.

Basit juga menyinggung peran ayah dalam keluarga yang begitu penting. Peran ayah di dalam keluarga itu juga diulas dalam buku yang dibedah.

Senada dengan Basit, penulis buku Homepower, Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup, Taat Setyabudi, menjelaskan bahwa bentuk house bisa berbeda-beda, tetapi home memiliki pemaknaan yang sama untuk mewujudkan rumah yang nyaman dan harmonis.

“Kalau ngomongin house, semua bentuknya fisik. Bangunan bentuknya beda-beda, setiap orang pasti rumahnya beda-beda. Tetapi kalau home, pemaknaan harusnya sama tentang bagaimana rumah itu menjadi tempat yang nyaman untuk beraktivitas, nyaman untuk kembali,” ujar dia.

Menurut dia, buku ini menjadi bagian dari upaya menata keluarga itu. Mulai dari seberapa berkualitas waktu keluarga hingga fenomena keluarga yang hadir secara fisik tetapi hampa secara emosional. Beberapa aktivitas dihabiskan anggota keluarga dengan ponselnya masing-masing.

“Melarang teknologi untuk tumbuh dan berkembang kan jadi susah. Maka yang perlu dilakukan, orang tua harus bijak dalam menatanya,” ujar Taat.

Taat juga mengungkap fenomena perceraian. Persoalan ekonomi memang bisa menjadi faktor perceraian, tetapi gagalnya komunikasi yang jelas juga menjadi penyebab lain.

“Gagal berkomunikasi bukan berarti tidak mengobrol, tetapi tidak tuntas dalam berdiskusi. Obrolannya enggak tuntas, enggak selesai,” kata dia.

Tiga Pilar

Sementara itu, narasumber lainnya, Indra Gumilar, menyebut bahwa buku Homepower, Menumbuhkan Keluarga, Memaknai Hidup setidaknya memiliki tiga pilar utama, yakni keluarga, memaknai hidup, dan rumah tangga yang kokoh.

Menurut Indra, buku ini mengajak pembaca memahami peran aktif orang tua dalam membentuk karakter dan potensi anak secara holistik. Selain itu, buku yang dibedah juga mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga bukan sekadar rutinitas dan mengajak pembacanya untuk menemukan makna di balik momen kebersamaan keluarga.

Adapun Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY, Budiyono, mengungkapkan bahwa minat baca di DIY berada di angka 0,049, yang berarti ada 49 orang yang membaca buku dari setiap 1.000 orang. Kendati capaian itu sudah tergolong tinggi di Indonesia, DPAD DIY bersama DPRD DIY terus berupaya meningkatkan minat baca masyarakat melalui kegiatan bedah buku.

“Meskipun masyarakat Jogja itu minat bacanya sudah tinggi, Pemda DIY tetep pengin meningkatkan minat baca itu dengan kegiatan bedah buku, dengan dihadirkan secara alone together atau menghadirkan perpustakaan ke hadapan panjenengan semua.”

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online