Raperda Penyelenggaraan Keolahragaan Dorong Kesejahteraan Atlet hingga Pelatih
Penguatan perlindungan dan kesejahteraan seluruh insan olahraga menjadi salah satu poin penting yang diperjuangkan DPRD Sleman melalui Panitia Khusus (Pansus)
Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman (berdiri) memaparkan materinya dalam bedah buku di Gedung Aisyah Harnas, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (5/11)./ Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
JOGJA—Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di DIY masih menghadapi persoalan mendasar dalam mengelola bisnis. Selain kesulitan memasarkan produk, banyak pelaku usaha belum mampu memisahkan uang modal dengan keuntungan sehingga rentan terjebak utang.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam bedah buku Panduan Sukses Berwirausaha Online bagi Para Pelaku UMKM karya Laksamana Naufal Hadi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY di Gedung Aisyah Harnas, Suryodiningratan, Kemantren Mantrijeron, Kota Jogja, Kamis (5/11) siang.
Praktisi UMKM, Farhan Acha, mengungkapkan persoalan pengelolaan keuangan masih banyak dialami pelaku UMKM di DIY. Dari sekitar 300.000 pelaku usaha, sebagian besar masih menjalankan bisnis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sehingga keuangan usaha dan rumah tangga kerap bercampur.
“Sebagian besar UMKM mengalami kesulitan yang sama, yaitu susah membedakan antara uang modal dan uang keuntungan. Sering disebut sistem kantong kiri, kantong kanan,” kata Farhan, Kamis (5/11).
Kondisi tersebut membuat uang modal kerap digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, mulai dari konsumsi sehari-hari hingga keperluan keluarga seperti pernikahan, sunatan, kelahiran, maupun kematian. Ketika usaha sedang sepi dan uang modal sudah terpakai, pelaku usaha akhirnya memilih berutang.
Menurut Farhan, persoalan lainnya adalah pelaku UMKM masih mengerjakan hampir seluruh pekerjaan sendiri, mulai dari membuat produk, memasarkannya, hingga menghitung keuntungan.
Karena itu, dia mengingatkan pelaku UMKM agar tidak menganggap remeh aspek kesehatan dan keselamatan kerja. Pekerja jahit yang tertusuk jarum atau pelaku usaha kuliner yang terkena cipratan minyak panas, misalnya, sering menganggap kejadian tersebut sebagai hal biasa. Padahal, risiko tersebut seharusnya dapat dicegah.
Pentingnya Kepercayaan
Sementara itu, penulis buku, Laksamana Naufal Hadi, mengatakan ketakutan mengalami kerugian dan rasa malu ketika menawarkan produk menjadi hambatan bagi sebagian orang untuk memulai usaha. Padahal, kepercayaan terhadap produk yang dijual merupakan salah satu modal penting dalam berwirausaha.
“Kalau kita yakin dan percaya tinggi dengan produk yang kita jual, itu pasti enggak rugi. Karena bagaimana cara untuk laris dengan produk kita, seharusnya kita menawarkan produk yang kita sukai,” kata Naufal.
Dia menilai pemasaran produk saat ini semakin mudah karena dapat memanfaatkan media digital. Pelaku usaha tidak harus berkeliling menawarkan barang atau membagikan brosur seperti cara pemasaran konvensional.
Menyaring Informasi
Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah tantangan masyarakat dalam memperoleh informasi. Jika dahulu masyarakat kesulitan mencari informasi karena keterbatasan sumber, saat ini justru dihadapkan pada derasnya informasi yang harus disaring.
“Dulu tantangan utamanya adalah mencari informasi karena segala sesuatunya serba sulit dan terbatas. Sebaliknya, tantangan hari ini adalah bagaimana cara menyaring informasi karena arus informasi begitu deras dan sangat mudah didapatkan,” ujarnya.
Menurut Budi, kemudahan mengakses informasi digital juga membawa persoalan baru. Masyarakat kerap hanya membaca judul tanpa memahami isi informasi secara utuh. Informasi yang diterima secara sepotong-sepotong kemudian dipercaya sebagai kebenaran dan membentuk persepsi yang keliru.
Karena itu, literasi diperlukan agar masyarakat lebih kritis dalam menerima informasi, termasuk ketika mencari pengetahuan untuk mengembangkan usaha.
“Kegiatan literasi ini sangat penting agar kita semua tidak mudah terprovokasi, tidak mudah termakan hoaks, serta tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang belum tentu benar,” kata politikus Partai Gerindra itu.
Pustakawan DPAD DIY, Danang Adi, mengatakan buku dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan masyarakat. Dia berharap forum bedah buku tidak hanya menghasilkan diskusi, tetapi juga mendorong peserta berpikir kritis dan menerapkan gagasan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui forum bedah buku ini, gagasan-gagasan yang ditulis oleh penulis dan pembedah tidak hanya menjadi bahan diskusi semata, tetapi dapat menjadi rancangan, aksi nyata, dan upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas,” katanya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penguatan perlindungan dan kesejahteraan seluruh insan olahraga menjadi salah satu poin penting yang diperjuangkan DPRD Sleman melalui Panitia Khusus (Pansus)
Hyundai menyiapkan Ioniq P, SUV listrik kompak dengan teknologi ADAS Level 2 dan dua pilihan jarak tempuh untuk pasar India.
Timnas Indonesia membatalkan laga melawan Yordania karena pertimbangan keamanan. Australia tetap dijadwalkan bertanding di Amman pada 17 November.
Google menonaktifkan Gemini dan Search secara default untuk akun pelajar K-12. Sekolah harus mengaktifkannya melalui administrator.
Oki Rengga meminta maaf setelah videonya berdebat dengan suporter PSMS soal spanduk kritik karhutla di Stadion Utama Sumatera Utara viral.
Asita DIY meminta koordinasi pengamanan Titik Nol diperkuat agar kenyamanan wisatawan dan citra wisata Jogja tetap terjaga.