Tingkatkan Pemahaman soal Stunting lewat Bedah Buku

Media Digital
Media Digital Jum'at, 16 Oktober 2026 06:32 WIB
Tingkatkan Pemahaman soal Stunting lewat Bedah Buku

Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai (berdiri) memaparkan materinya dalam bedah buku Penanganan dan Pencegahan Stunting di Gedung Serbaguna Purwosari, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman, Sleman, Kamis (15/10)./ Harian Jogja - Stefani Yulindriani

SLEMAN—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku berjudul Penanganan dan Pencegahan Stunting di Gedung Serbaguna Purwosari, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Sleman, Kamis (15/10). Kegiatan ini menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai masalah gizi sekaligus mendorong budaya membaca.

Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY, Anton Prabu Semendawai, mengatakan penanganan tengkes (stunting) perlu terus diperhatikan seiring dengan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain pemenuhan gizi, pengetahuan masyarakat melalui budaya literasi juga perlu diperkuat.

Anton menuturkan masyarakat perlu memanfaatkan fasilitas perpustakaan untuk memperluas wawasan. DPAD DIY menyediakan koleksi buku cetak maupun elektronik yang dapat diakses melalui berbagai perangkat. Dengan demikian, literasi masyarakat, termasuk mengenai penanganan tengkes, dapat ditingkatkan.

“Di DPAD DIY ada hampir setengah juta judul buku. Ada juga yang e-book, mungkin total ada 27.000 judul buku. Jadi, Anda semua bisa membaca melalui ponsel, gadget, iPad, atau laptop,” katanya dalam bedah buku, Kamis.

Menurut dia, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang edukasi dan rekreasi bagi masyarakat.

Redaktur buku, Muhammad Hafis, menjelaskan kekurangan gizi pada anak merupakan persoalan yang berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia. Permasalahan gizi tidak hanya mencakup tengkes, tetapi juga wasting atau kondisi kurus pada balita, anemia, serta kekurangan energi kronis pada ibu hamil.

“Permasalahan gizi tidak hanya dipengaruhi asupan makanan dan penyakit infeksi, tetapi juga faktor tidak langsung, seperti kemiskinan, sanitasi lingkungan, ketersediaan pangan, pola asuh, dan pelayanan kesehatan,” katanya.

Karena itu, edukasi mengenai penanganan dan pencegahan tengkes perlu dilakukan secara berkelanjutan. Melalui kegiatan bedah buku, masyarakat diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai persoalan gizi sekaligus meningkatkan budaya literasi.

Sementara itu, narasumber lainnya, Nasri, mendorong orang tua untuk memperhatikan asupan gizi anak agar terhindar dari tengkes dan tumbuh kembangnya tidak terganggu.

“Orang tua harus memahami kandungan gizi setiap makanan agar makanan yang masuk dapat mendukung tumbuh kembang anak,” katanya.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan DPAD DIY, Zulfa Kurniawan, mengatakan kegiatan bedah buku bertujuan meningkatkan minat baca sekaligus membangun kemampuan masyarakat dalam memahami isi bacaan.

“Banyak yang kemudian sudah bisa membaca, tapi belum bisa memahami isi bacaannya,” katanya.

Dia menilai kemampuan memahami bacaan menjadi penting di tengah maraknya informasi singkat yang beredar melalui media sosial. Melalui pembahasan buku, masyarakat diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai suatu persoalan.

“Kalau di buku itu pembahasannya komprehensif dari A sampai Z, tidak terpotong-potong seperti yang ada di TikTok, Instagram, maupun Facebook,” ujarnya.

Zulfa mengatakan DPAD DIY terus mendorong masyarakat melalui empat tahapan literasi, yakni membaca, berkarya, berdaya, dan berjaya. Dia berharap kebiasaan membaca dapat mendorong masyarakat menghasilkan karya sekaligus meningkatkan kapasitas diri. (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online