BEDAH BUKU: Masyarakat Diminta Berani Menagih Janji Wakil Rakyat

Media Digital
Media Digital Sabtu, 31 Oktober 2026 07:02 WIB
BEDAH BUKU: Masyarakat Diminta Berani Menagih Janji Wakil Rakyat

Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman (berdiri), menyampaikan materi saat bedah buku di Wirobrajan, Kota Jogja, Jumat (30/10). Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono

JOGJA - Anggota DPRD, baik di tingkat daerah maupun pusat, pada prinsipnya merupakan representasi suara rakyat. Melalui mereka, masyarakat menitipkan harapan agar aspirasi dapat diperjuangkan dan diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak pada kepentingan serta kesejahteraan bersama.

Karena itu, penulis buku 1001 Tanya untuk Wakil Rakyat, Farhan Acha, mendorong masyarakat lebih aktif menggunakan haknya untuk mengawasi dan meminta pertanggungjawaban wakil rakyat. Melalui buku tersebut, dia ingin meningkatkan literasi masyarakat agar tidak hanya memahami kewajiban, tetapi juga mengetahui hak-haknya sebagai warga negara.

Farhan menjelaskan, gagasan penulisan buku tersebut berangkat dari pengamatannya bahwa masyarakat kerap melupakan hak setelah menjalankan kewajibannya. Kondisi itu dinilai turut memelihara budaya politik transaksional.

“Kalau budaya uang dipelihara, maka habis manis sepah dibuang. Transaksi selesai tidak ada ikatan apa pun. Buku yang saya tulis untuk menghilangkan budaya seperti itu,” kata Farhan dalam bedah buku 1001 Tanya untuk Wakil Rakyat yang digelar di Wirobrajan, Kota Jogja, Jumat (30/10).

Dalam bedah buku yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY tersebut, Farhan mendorong masyarakat memahami bahwa berbagai program yang dapat diakses melalui wakil rakyat pada dasarnya dibiayai dari pajak yang dibayarkan masyarakat. Karena itu, warga berhak mengetahui, mengakses, sekaligus menagih komitmen yang telah disampaikan para wakil rakyat.

“Kalau sudah berjanji, berani milih, berani nagih. Kedudukan masyarakat lebih tinggi daripada wakil rakyat,” katanya.

Praktisi politik, M. Andri Perdana, menegaskan bahwa memilih dalam pemilu hanyalah gerbang masuk ke dalam sistem demokrasi. Pengawasan yang berkelanjutan justru menjadi jantung akuntabilitas.

Menurut dia, kondisi masyarakat saat ini dihadapkan pada banjir informasi yang berpotensi menimbulkan bias. Akibatnya, masyarakat dapat terombang-ambing dalam menentukan sikap dan merumuskan aspirasi.

“Semakin penting karena sekarang banjir informasi membuat informasi bias. Masyarakat bisa terombang-ambing,” kata Andri.

Banjir informasi tersebut juga dapat menciptakan realitas semu. Karena itu, pengawasan terhadap wakil rakyat tidak boleh berhenti setelah pemilu selesai.

“Ini adalah pesan besar buku yang ditulis Farhan Acha,” katanya.

Melalui buku tersebut, Andri mengajak masyarakat memahami kembali bahwa dewan bukan sekadar gedung, tempat sidang, pemberi proyek, ataupun pengganti pemerintah. Sebaliknya, dewan merupakan saluran representasi tempat aspirasi warga dibawa ke ruang kebijakan.

Masyarakat datang dengan membawa masalah, data, dan kebutuhan. Selanjutnya, dewan memperjuangkan aspirasi tersebut melalui kewenangan politik yang dimiliki.

Bekal Literasi

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DIY, Budi Waljiman, menyampaikan masyarakat perlu memiliki bekal literasi untuk terlibat dalam setiap pengusulan aspirasi dan berbagai program yang digulirkan pemerintah.

Bekal literasi juga membuat masyarakat lebih fokus dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan. Menurut Budi, persepsi yang sudah terinternalisasi tanpa disertai kemauan belajar dapat menutup diri seseorang dari berbagai pengetahuan dan kesempatan untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.

Adapun Pustakawan Ahli Pertama DPAD DIY, Hari Setiawan, mengatakan literasi, salah satunya melalui membaca, dapat menjadi benteng dalam menghadapi berbagai bentuk hoaks dan disinformasi.

Dengan bekal literasi, masyarakat diharapkan lebih mampu memahami gagasan utama dan tidak terjebak pada persoalan yang tidak jelas.

Dia mencontohkan masyarakat yang masih memercayai mitos bahwa seseorang yang telah merokok selama bertahun-tahun tetap bisa sehat. Padahal, anggapan tersebut perlu ditelisik berdasarkan bukti medis yang menunjukkan bahwa merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit.

“Inilah pentingnya kami menggelar bedah buku seperti ini. Kualitas literasi masyarakat memang harus terus diperbaiki.” (Advertorial)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Ujang Hasanudin
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online